Biasanya pekerja seperti aku yang hidup bersama istri dan anak-anak ini pulang mudik setahun sekali pada saat anak-anak libur sekolah.
Harga tiket per orang dengan nilai tukar Qatari Riyal ke Rupiah saat ini sekira 16 juta Rupiah. Mahal sekali ya?

Ya wajar sih dengan jarak 6927 km dari Doha ke Jakarta, harus ditempuh dengan waktu sekira 8 sampai 9 jam.
Jadi sekali mudik saja paling sedikit harus menyiapkan biasa yang setara dengan tabungan kami satu tahun. Ada pilihan beberapa maskapai lain yang lebih murah tapi perbedaannya tidak terlalu jauh.

Ya begitulah, memang uang tidak bisa ditukar dengan waktu bertemu sanak saudara dan orang tua, tapi kadang ada kondisi yang bisa membuat para perantau seperti aku memilih untuk tidak pulang setiap tahun. Apalagi sekarang kondisi pandemi yang membuat pemerintah setempat membatasi perjalanan keluar masuk negaranya.
Risiko yang harus disiapkan ketika berada di dalam kondisi merantau jauh tentunya adalah harus selalu mempunyai persiapan jika mendengar kabar duka.
Salah satu tantangan terbesar hidup di perantauan adalah “kejutan” dari keluarga di Indonesia. Kejutan kabar duka.

Beberapa kali aku mendengar kabar ada orang tua teman yang meninggal, dan mereka tidak bisa mengejar waktu untuk melihat orang tua mereka untuk terakhir kalinya. Ya, karena jarak Doha ke Jakarta sangat jauh, bisa sembilan jam perjalanan. Apalagi yang rumahnya di luar pulau, tentunya akan lebih lama lagi.
Dan pastinya kesedihan akan berlipat ganda ketika hanya bisa melihat pusara orang tua.
Untuk teman-teman aku yang sudah melewati fase itu, ada yang menjadi “lupa pulang”.

Ya karena kehidupannya sudah nyaman, di Indonesia sudah tidak mempunyai orang tua yang masih hidup. Ada yang sampai beranak-pinak di perantauan.
Ada teman yang datang ke Qatar belum mempunyai anak. Sekarang anak-anak beliau sudah menikah dan sudah mempunyai beberapa cucu.

Ya bisa dibilang perantau seperti itu hanya tinggal menikmati hidup dengan penghasilan besar dan menunggu pensiun saja.
O iya, biasanya di Qatar usia pensiun untuk pegawai adalah 60 tahun.

Jadi yang aku amati ya mereka sangat menikmati hidup di perantauan. Cuti ke Indonesia hanya setahun sekali. Tapi hampir setiap beberapa bulan mereka mengajak anak-anak mereka jalan-jalan ke Qatar, umroh atau malah menikmati suasana baru liburan ke Eropa.

Ya, ketika di perantauan dirasa lebih baik dibandingkan dengan di negeri sendiri, bisa menyebabkan para perantau bisa lupa untuk pulang. *



