Bayangan suasana pabrik yang remang-remang diterangi oleh cahaya jingga bara besi cair yang sedang dicetak menjadi lempengan-lempengan baja terus berputar di dalam kepala ketika sedang mengerjakan soal tes tulis.
Soal tes tulis dari sebuah perusahaan petrokimia di Banten.

Sampai akhirnya aku dan empat temanku diterima, dan menandatangani surat kontrak kerja kami, bayangan dan gambaran itu masih belum lepas dari benakku. Karena hanya sebatas itu saja pengetahuanku tentang kota Cilegon.
Ketika menyebut kata “Banten” tentunya, yang akan langsung terkait adalah kata “Debus”. Ya bagaimana lagi, karena waktu itu belum ada internet dan bacaanku masih terbatas.

Terlepas dari kedua hal itu yang ternyata tidak sepenuhnya salah, merantau ke Banten itu ternyata bonusnya banyak.
Secara finansial ya tentunya hal yang realistis karena UMR di Banten konon adalah yang tertinggi kedua di Indoesia.
Gaji pertamaku waktu itu, yang cuma lulusan SMK, sudah lebih besar dari gaji ayahku yang sudah belasan tahun bekerja.

Seumur hidup sembilan belas tahun di Bandung, aku hanya dua kali jalan-jalan ke pantai. Pantai Carita dan Pantai Pangandaran.
Selebihnya?
Ya kalau kita tinggal di daerah pegunungan seperti di Bandung, rekreasi ke pantai adalah hal yang mahal. Karena kita harus benar-benar menyediaan waktu dan biaya untuk menikmati lembutnya gesekan pasir pantai di antara jemari kaki kita. Perlu waktu dan biaya dan tidak sedikit untuk sekadar merasakan deburan ombak di dada kita.
Perlu waktu dan biaya juga untuk bisa menikmat indahnya pemandangan matahari terbenam di tepi pantai.

Tapi kalau kamu merantau ke Banten, hal yang mahal dan mewah itu lama-lama akan kamu rasakan sebagai hal yang biasa saja.
Ya bagaimana tidak, pabrik tempat aku bekerja lokasinya di daerah Anyer yang tentunya adalah tempat banyak sekali pantai-pantai yang sangat indah.
Dengan bekerja dan tinggal di dunia yang sama sekali baru untuk seorang anak rumahan sepertiku adalah pengalaman yang mengejutkan dan mengesankan.

Alhamdulillah aku bisa survive ketika menjadi anak kos dan anak kontrakan. Hanya perlu waktu beberapa bulan saja sudah terbiasa mandiri dan mulai tidak bergantung kepada orang lain seperti ketika masih sekolah.
O iya, dengan berkembang pesatnya dunia industri petrokimia dan perminyakan dan gas di dunia, itu juga menjadi bonus yang sangat besar untuk para perantau di sana.

Perusahaan-perusahaan industri di Banten menjadi batu loncatan para pekerja industri untuk melompat ke daerah Timur Tengah. Di sana juga industri petrokimia dan perminyakan dan gas berkembang jauh lebih pesat.
Tapi bonus terbesar buatku ketika merantau ke Cilegon adalah di situlah Allah mempertemukan dengan jodohku. Hehehe.
Ya bukan hanya aku sih, bisa dibilang seperti sudah “sunatullah” kalau para perantau biasanya akan bertemu jodohnya di perantauan.


