Surat dari Qatar: Merantaulah agar Tahu Makna Hidup Sendiri

Waktu itu hari terasa sangat melelahkan, karena harus menangani pekerjaan teman- temanku yang sedang cuti lebaran. Waktu itu tiba- tiba aku ingin sekali pergi ke warnet.

            Aku membaca surat penawaran dari agen calon perusahaan tempat bekerja di Qatar.

            Beberapa hari setelah aku kirim surat penawaran yang sudah kutandatangani, ada balasan dari agen, yang menyebutkan bahwa aku tinggal menunggu visa. Setelah visa sudah jadi, baru mereka akan mengirimkan tiket penerbangan dari Jakarta ke Doha.

            Setelah lebih dari sebulan menunggu, ternyata visa yang kutunggu itu tidak kunjung datang. Hampir setiap hari kuhabiskan puluhan ribu rupiah di warnet, hanya untuk memeriksa email- email yang datang.

            Hatiku mulai galau.

            Hatiku yang sedang galau dalam penantian itu menjadi lebih galau, ketika aku mendengar desas- desus bahwa ada beberapa kasus yang sama. Orang yang sudah menerima job offer ternyata belum tentu seratus persen akan direkrut.

            Sejak kudengar kabar seperti itu badanku langsung lemas dan lunglai. Bagaimana tidak, aku membayangkan bagaimana kelanjutan hidupku jika sampai aku tidak jadi pergi ke Qatar.

            Hutangku ke Bank sudah menumpuk, kuliahku sudah tidak terbayar, usahaku pun sudah kembang kempis.

            Hari- hariku yang tadinya penuh kegembiraan dan keceriaan, berubah drastis menjadi hari- hari galau. Hari- hari murung di dalam penantian yang tidak jelas.

            Selera makanku mulai hilang. Mungkin, sebulan sejak masa penantian itu, aku hanya makan sekali dalam satu hari. Itu pun aku harus memaksakan diri, karena takut terjadi apa- apa pada kesehatan tubuhku.

            Dan akhirnya, yang kutakutkan pun terjadi.

            Aku jatuh sakit.

            Penyakit maagku yang tadinya kusangka sudah sembuh total, kali ini kambuh lagi.

            Hampir setiap hari penyakit itu kambuh. Telat makan sedikit saja, rasa pedih di lambungku langsung menyerang hebat.

            Pada puncaknya, aku tidak kuat lagi dan harus berobat ke klinik berkali- kali ketika maagku kambuh. Dokter di klinik itu akhirnya membuat surat rujukan agar aku dirawat saja di rumah sakit, agar penyembuhannya optimal. Dia beralasan, dengan kondisiku yang tinggal sebatang kara di rumah kontrakan, pasti aku tidak akan bisa makan teratur. Tidak ada yang mengingatkanku untuk minum obat.

Dan akhirnya aku pun harus merelakan tubuhku terbaring lemah di rumah sakit. Dan untuk pertama kalinya seumur hidup, akhirnya aku merasakan juga jarum infus menusuk urat di tanganku.

Ternyata diinfus itu tidak enak dan sakit.

            Tapi sampai sekarang keluargaku tidak pernah tahu, bahwa aku pernah dirawat gara- gara penyakit maag akut. Aku sengaja tidak memberitahu mereka, agar mereka tidak khawatir.

            Hampir semua tetanggaku dan teman- teman kerja yang datang menengok mengetahui bahwa penyebab  sakit itu adalah karena aku terlalu memikirkan masalah visa kerja yang tidak kunjung datang.

            Mereka semua menenangkan dan menyemangatiku untuk tidak terlalu memikirkan visa itu, karena toh nanti juga akan datang. Dan kasus pada orang- orang yang sudah menerima job offer, tapi akhirnya tidak jadi direkrut pun, itu hanya terjadi pada beberapa orang, tidak terlalu banyak terjadi.

            Setelah tujuh hari dirawat, dokter spesialis penyakit dalam di rumah sakit itu akhirnya memperbolehkan untuk pulang.

            Dua bulan kemudian , akhirnya aku bisa menginjakkan kaki di Qatar dan bekerja dengan tenang, bahagia, ceria, dan damai di tempatku bekerja sekarang.

            Salah satu kemampuan yang otomatis kita dapatkan ketika menjadi perantau tentunya adalah kemandirian. Pasti ada saat di mana kita harus mengurus segalanya sendiri.

            Jadi sebisa mungkin kuatkan mental kamu jauh sebelum kamu memutuskan untuk merantau ke negeri seberang, agar kamu tidak kaget dan tidak tergagap untuk mengambil langkah antisipasi.

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==