Apa pun yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari ternyata bisa menjadi ladang amal untuk kita, semuanya hanya masalah niat saja. Ibadah tidak sebatas hanya sholat, puasa, zakat, sedekah dan haji.

Ya, ibadah itu untuk bersyukur. Sebelum pelatihan, sholatku masih belang-betong, kadang- kadang masih bisa meninggalkan sholat dengan alasan yang tidak terlalu penting, seperti kesiangan bangun, ada tugas sekolah, atau membuat laporan praktikum.
Di pelatihan itu , aku sama sekali tidak pernah mendapat kalimat perintah: “Sholatlah kamu lima kali sehari!” Atau “Kamu harus sholat tahajud setiap hari!”. Yang ada hanya teladan dari para pelatih, santri dan ustadz yang memberi pelatihan dengan langsung memberi aksi dan mencontohkan.

Pemicu utama, ketika akhirnya aku bisa dan mau melakukansholat lima waktu tanpa merasa dipaksa, ternyata adalah isi dari salah satu ceramah Aa Gym ketika mengisi materi di SSG.
“Allah sama sekali tidak memerlukan sholat dan ibadah kita!” Ujar beliau dengan penuh semangat.

“Jika kita hanya menganggap sholat dan ibadah yang lain hanya sebatas rutinitas dan kewajiban, kita pasti akan jenuh, bosan, dan merasa terbebani ketikamelakukannya, tapi jika kita melakukan ibadah sebagai ungkapan rasa syukur kita, rasa terima kasih kita kepada Allah, yang tidak pernah berhenti memberikan semua yang kita perlukan tanpa kita minta!” Beliau menambahkan dengan lebih berapi-api, dengan kobaran mata yang membara, layaknya api yang ikut membakar semua yang mendengar untuk segera memutuskan hari itu juga, untuk merubah paradigma.
Ya! Paradigma baru, bahwa kita melakukan ibadah untuk menunjukkan rasa syukur dan terima kasih kita kepada Allah. Bukan sebatas rutinitas belaka.

Terlepas dari apa yang sedang dibicarakan orang tentang Aa Gym sekarang, dan aku juga tidak begitu sering lagi mendengar atau melihat ceramahnya, tapi setidaknya aku ingat, beberapa tahun yang lalu, beliau pernah mendapatkan gelar Tokoh Perubahan dari Republika.
Dan terbukti, akhirnya semenjak hari itu, aku tidak pernah berani meninggalkan sholat. Bahkan, aku jadi lebih sering sholat berjamaah di mesjid dekat rumahku.

Tahajud pun, yang tidak pernah aku bayangkan akan kulakukan, ternyata bisa kulakukan dengan ringan, tanpa beban ngantuk, atau malas, ataupun perasaan berat.
Kuncinya hanya satu. Ya itu tadi, hanya tinggal mengubah pikiran kita ke mode “bersyukur”, bukan ke mode “harus melakukan”.

Kalaupun setelah beberapa tahun berlalu dan ternyata aku tidak segiat dan serajin dahulu, itu adalah semata disebabkan oleh diriku sendiri. *
(Tulisan inu dimuat di buku “Apa Yang Paling Berkesan Hari Ini?”, Penerbit One Peach Media, 2021)



