Surat dari Qatar: Usus Buntu Gadungan

    Ketika sakit ini tiba, aku sedikit khawatir, karena aku pernah membaca bahwa sakit perut kanan bawah itu mungkin adalah gejala dari infeksi usus buntu.

    “Gawat..! Aku harus segera ke klinik nih!”

    Sambil menahan sakit, kupaksa tubuhku untuk berdiri. Dan kubawa tubuh ini menuju ke pangkalan angkot terdekat.

    Untungnya tidak lama kemudian sudah ada angkot berwarna Ungu yang selalu setia mengantarku ke mana pun tujuanku di Cilegon itu yang menghampiri.

    Setibanya di klinik itu, aku langsung mendaftar ke dokter jaga, karena di situ tidak ada dokter spesialis penyakit dalam.   

    “Selamat pagi Dokter!” Sapaku sambil meringis dan memegang perut dengan kedua tangan, dan agak sedikit membungkuk.

    “Selamat pagi! Sini langsung berbaring!” Dokter muda yang mengenakan jilbab berwarna pink itu langsung terlihat khawatir ketika melihatku meringis kesakitan.

    “Kenapa perutnya?’ Tanyanya.

    “Tidak tahu Dok, tadi tiba- tiba perut saya, bagian kanan bawah terasa sakit banget, pedih!” Kataku sambil membaringkan badanku di atas ranjang pemeriksaan.

    Ibu Dokter tidak menjawab. Dia hanya mengambil stetoskop dan alat pengukur tekanan darah, lalu melakukan prosedur rutin.

    “Tolong buka kausnya!” Pinta Ibu Dokter.

    Setelah itu dia langsung menekan perutku, tepat di bagian yang sakit.

    “Ahhh…..!” Aku langsung bangkit, dan hampir terduduk.

    “Maaf. Sakit banget ya?” Tanya Ibu Dokter.

    “Saya harus memeriksa dengan cara seperti ini. Karena saya takutkan kamu terkena infeksi usus buntu” Katanya lagi.

    “Tahan ya!” Katanya sambil menekan lagi perutku.

    “Ketika ditekan sakit?” Tanyanya lagi.

    “Sakit banget…” Jawabku lemas.

    “Ketika tekanannya dilepas, sakit juga?” Dia bertanya lagi.

    “Iya Dok, sakit juga..” Kujawab lagi.

    Kali ini muka Ibu Dokter mulai terlihat khawatir. “Saya cek satu parameter lagi ya!” Katanya sambil mengangkat kaki kananku, sampai paha kananku hampir menempel ke perutku.

    “Ahhhh….!” Aku hampir berteriak, karena sakit di perutku hampir sama dengan ketika perutku ditekan.

    “Waduh, gawat Mas! Ini positif usus buntu!” Katanya dengan sedikit panik.

    “Langsung saya rujuk ke rumah sakit ya! Ini harus segera dioperasi, kalau tidak bisa berakibat fatal!” Katanya dengan sedikit panik, dan sambil terburu- buru menulis surat rujukan ke rumah sakit terbesar di kota Cilegon.

    Aku tidak bisa berkata- kata dan hanya menatap kosong langit- langit ruangan periksa.

    “Ini surat rujukannya, silahkan langsung saja ke rumah sakit ya! Ingat, ini ini harus dioperasi sekarang juga, kalau tidak bisa gawat!” Kata Ibu Dokter itu, masih dengan raut muka yang panik dan cemas.

    “Iya Dok, makasih banyak ya..” Jawabku dengan lemas dan melangkah gontai ke luar dari ruangan periksa itu.

    Untuk beberapa saat, aku biarkan tubuh kerempengku  mematung di atas kursi halte di depan klinik. Tatapanku kosong menatap kertas rekomendasi rawat inap dari dokter di klinik tadi. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan.

    “Waduuh, gawat ini mah euy! Aku kena usus buntu..!” Umpatku dalam hati sambil tetap meringis menahan pedih di perutku yang tak kunjung reda.

    Yang ada di pikiranku saat itu hanya ibuku yang seorang perawat sebuah rumah sakit swasta di Bandung. Minimal dia bisa bertanya kepada dokter di sana. Secepat kilat kupijit nomor hape ibu. *

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==