Kejutan! Rakyat Jelata Jadi Duta Baca Indonesia 2021

Setelah pengukuhan saya sebagai Duta Baca Indonesia 2021-2025, menggantikan Najwa Shihab yang cantik, saya masih belum percaya. Ah, mimpi! Tidak, bukan mimpi! Bagaimana bisa? Saya hanyalah rakyat jelata. Tidak didukung media besar atau institusi besar seperti Tantowi Yahya, Andi Flores Noya, dan Najwa Shihab. Bahkan tidak juga infrastuktur lainnya. Apalagi pendanaan.

Jadi saya hanya bisa meminta dukungan kepada sesama rakyat jelata. Kepada Allah SWT dan kalian. Kita saling berjabatan tangan, bekerja bersama, saling dorong saling asih saling asah saling asuh.

Please follow and like us:
error2
fb-share-icon0
Tweet 5

Duta Baca Indonesia dan Duta Baca Banten Informal Meeting dengan FTBM Banten

Baru sehari dikukuhkan jadi Duta Baca Indonesia 2021-2025, Gol A Gong mengumpulkan para pegiat literasi Banten di Cafe Rendez-vous Rumah Dunia, Jumat sore 1 Mei 2020. Hadir juga Rahmat Heldy Hs – Duta Baca Banten 2017-2022.

Gol A Gong mengajak mereka untuk memberdayakan masyarakat pedesaan dengan buku. “Sangat penting memahami karakter setempat. Jika di Banten Barat, karakternya laut. Sebelah timur industri, dan selatan adalah hutan.”

AndrE Gunawan – Ketua Forum TBM Banten siap mengkoordinir potensi para pegiat literasi se-Banten. Rencananya mereka akan menggodok 3 jenis kegiatan dengan tiga tema berbeda. Pesertanya pemustaka.

Gol A Gong, Rahmat Heldy, Daru
Please follow and like us:
error2
fb-share-icon0
Tweet 5

Dari Heri ke Gong: Ihwal Duta Baca Indonesia

Saya mengenalnya sebagai Heri. Saat itu, 1977, saya diterima di SMPN 2 Serang. Dia kakak kelas saya satu tahun. Walau tangan kirinya buntung, dia tampak biasa saja. Wajahnya riang dan, kesan saya, agak badung.

Saat saya masuk ke SMAN 1 Serang, tahun 1980, dia juga sudah bersekolah di situ. Saat SMA itulah, sebagai pengurus OSIS, bersama Rahmat Yanto (kemudian menggunakan nama Rys Revolta), saya mengelola Mading (Majalah Dinding) sekolah. Tapi Heri malah membuat mading sendiri di kelasnya.

Selepas SMA Heri diterima kuliah di Sastra Indonesia Universitas Padjadjaran Bandung. Cukup mengagetkan bagi “siswa sulit diatur” seperti Heri. Satu tahun kemudian, 1983, saya dan Yanto juga ke Bandung. Saya ke Sastra Jepang tapi tidak lolos, sedangkan Yanto diterima di Sastra Perancis. Saya kecewa sekali lalu mendaftar ke IKIP Bandung. Tapi hanya kuliah satu hari saja di sana dan memutuskan kuliah di sebuah sekolah tinggi di bilangan Dago.

Please follow and like us:
error2
fb-share-icon0
Tweet 5