Kutunggu Kau di Mercusuar

Di Labuan Bajo, saya menginap di waterfront city. Di depan penginapan ada mercusuar yang disulap jadi plaza. Ada panggung, ruang display souvenir, dan dermaga ke pulau komodo. Di dermaga Larantuka, mercusuar berdiri gagah. Di Ba’a Rote Ndao, mercusuar jadi penghias yang indah. Di kota lama Kupang, mercusuar mengundang semua orang untuk membuat kenangan. Maka, kutunggu kau di mercusuar. Begitulah nanti judul novel terbaruku.

Selfie di Mercusuar Penuh Sensasi

Aku sering selfie atau berfoto di depan mercusuar. Bagi aku selfie atau berfoto di mercusuar itu penuh sensasi. Aku merasa gagah. Sayangnya aku tidak telaten mendokumentsikannya. Mulai sekarang, setiap ke pelabuhan, aku akan berfoto dengan latar belakang mercusuar dan menyimpannya baik-baik. Selain itu juga mercusuar sangat bagus untuk setting lokasi novel yang akan aku tulis. Sepulang dari NTT, aku akan memulainya lagi berfoto di nol kilometer ujung barat pulau Jawa, yaitu di Anyer, Serang-Banten.

Mercusuar di Kota Lama Kupang

Setelah menikmati mercusuar di pantai Metina, Ba’a, Rote Ndao, aku tertarik ingin menikmati mercusuar di Kupang. Setiap traveling, jika di kota itu ada mercusuarnya, aku upayakan untuk bisa berpose. Aku selalu kagum dengan arsitektur mercusuar. Konon, mercusuar tertua ada di Pulau Breueh, Kecamatan Pulo Aceh, Kabupaten Aceh Besar, yaitu Menara Willem’s Toren di Pulo Aceh, dibangun pada masa kolonial Belanda tahun 1875.

error

Enjoy this blog? Please spread the word :)