Setahun Covid-19, Akhirnya Kena Juga…

Maret 2021. Ridwan Kamil, Gubernur Jawa Barat mengucapkan, “Selamat ulangtahun, Covid-19. Pendek umur, segera binasa.” Ya, binasa. Jangan ada perayaan tahun kedua.

Setelah satu tahun bertahan, sementara orang-orang sudah divaksin dan merencanakan ini-itu…

Akhirnya yang saya takutkan terjadi. Setelah saya isoman 10 hari, sejak 27 Februari 2021, pada 8 Maret saya negatif walaupun bayang-bayang Covid-19 masih ada, kata dokter. Kini sampai 11 Maret 2021, masih tersisa batuk berdahak.

Please follow and like us:
error1
fb-share-icon0
Tweet 5

Setahun Bermasker di Era Pandemi Covid-19

Pada 7 Maret 2020, saya resmi me-lockdown-kan diri. Kami tinggal di rumah. Jika keluar, masker jadi “perhiasan” seperti halnya celana, baju, dan sandal atau sepatu. Tanpa masker, hidup kita jadi susah.

Banyak orang yang kemudian mati sia-sia karena mengabaikan protokol kesehatan 3M – memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan. Dengan mentaati 3M ini, kita sudah melindungi diri, keluaga, saudara, juga tetangga dan lebih besar lagi Indonesia.

Ini dia “new normal”. Kita harus siap menerimanya. Vaksidnya juga belum sampai ke kita. Entah kapan. Bersabar. Kita berdo’a, ya, agar dijauhkan dari bahaya Covid-19. Kepada yang masih belum percaya Covid-19 itu ada, jalan-jalan ke rumah sakit saja, ya! (GG)

Please follow and like us:
error1
fb-share-icon0
Tweet 5

Gempa Literasi di Sekolah

Gempa Literasi adalah gempa yang menghancurkan kebodohan dan membangun peradaban baru. Menu utamanya pelatihan menulis esai, cerpen, atau novel best seller, dan seminar literasi. Menu tambahannya pembacaan puisi. Sebelum pandemi Covid-19, saya menyulut Gempa Literasi ke sekolha-sekolah di seluruh Indonesia. Selama work from home ini beberapa sekolah menyulutnya secara daring. Jika Corona berlalu, silakan kontak Tias Tatanka di 0819 06311 007. (GG)

Please follow and like us:
error1
fb-share-icon0
Tweet 5

Menyunggu Vaksin Covid-19

Presiden RI, Joko Widodo sudah divaksin. Raffi Ahmad dan Ariel Noah dari kaloangan artis sudah. Saya sebagai penulis dan aktivis literasi, menunggu telepon atau WA dari Satuan Tugas Covid-19. Setelah dokter dan tenaga ksehatan lainnya, aparat keamanan, saya siap divaksin. saya termasuk yang beresiko juga karena melayani masyarakat di literasi baca-tulis, literasi budaya dan kewargaan di Komunitas Rumah Dunia. Menunggu, itulah yang tepat sekarang. (GG)

Please follow and like us:
error1
fb-share-icon0
Tweet 5

Kita Tidak Serius Melawan Corona

Di Indonesia, mematuhi protokol kesehatan untuk mencegah Corona, masyarakat banyak yang membangkang. Kita tidak serius melawan Corona. Paling parah masih saja ada yang beranggapan itu konspirasi global. Padahal sudah banyak yang mati.

Sementara di Alaska, pemburu binatang sangat taat hukum. Ketika mereka mau menembak binatang Karibu, mereka meneliti dulu. Jika tidak ada karibu jantan, cuma betina dan anaknya yang masih muda, itu ilegal. Mereka mengurungkan niatnya. Padahal tidak ada petugas.

Kata mereka, “Tidak baik meninggalkan anak karibu tanpa si ibu.” Itu ekosistem. Selain taat hukum, logika berpikir mereka berjalan. Ilmu pengetahuan jadi landasan hidup mereka. Agama memakai akal sehat.

Semoga yang masih berkerumun, berkeringat mencari nafkah untuk keluarga dilindungi Allah SWT. Begitu juga yang di rumah. Kita saling mendoakan.

Please follow and like us:
error1
fb-share-icon0
Tweet 5

Puisi Corona: Bianglala Tersenyum, Sayang!

Aku hitung harapan di berita kota, Sayang
headline itu tidak memisahkan cinta kita.
Suara di mickrofon memenuhi udara
Katamu, “Kita tidak terasing dari dunia.”

Hari berganti serupa bianglala, Sayang
semua warna tersenyum dalam lukisan
Jam berdetak menari di atas kepala
Katamu, “Masih ada yang bisa dipercaya.”

Kita berjalan di halaman depan, Sayang
pagi tadi anak-anak berlarian di rumput basah.
Apa yang kita tanam tumbuh mengangkasa
Katamu, ” Kita menuliskan wabah dalam puisi.”

Gol A Gong
Rumah Dunia, 11 April 2020

Please follow and like us:
error1
fb-share-icon0
Tweet 5