Berbuka dengan Puisi

Setiap pulang ke rumah dari sebuah perjalanan, oleh-oleh untuk anak dan istri adalah prosa dan puisi. Aku tak sanggup memasukkan Indonesia yang indah ini ke dalam blue ransel yang setia kusandang ke mana pun pergi. Apalagi memasukkan masjid-masjidnya, yang begitu megah-mewah, sementara para kiyai dan jamaahnya mikin-miskin.

Ketika aku jelajahi Sumatra selama 50 hari (1 Mei – 23 Juni 2013), aku menemukan sedikit sekali orang Indonesia yang menyukai puisi. Ketika di Dewan Kesenian Riau, tak lebih dari 50 orang berpesta puisi, kalah riuh dengan ribuan orang Riau yang menonton pertunjukkan band. Begitu juga ketika aku berziarah ke makam Raja Ali Haji di Pulau Penyengat, tak banyak gurindam atau buku puisi dilahirkan dari pulau ini. Warganya terlalu sibuk menyambut para wisatawan asing dan domestik serta mengantarkannya dengan becak motor berkeliling pulau.

Please follow and like us:
error2
fb-share-icon0
Tweet 5

Relawan Rumah Dunia Jualan Ta’jil Saat Puasa 2021

Setiap sore, menemani Relawan Rumah Dunia,di Serang Banten,menekuni literasi keuangandi Cafe Rendez-vous. Mereka jualan ta’jil seperti es buah, gorengan, dan paket murha makan ayam geprek untuk buka puasa 2021.

Mereka adalah contoh sukses literasi berbasis inklusi sosial. Dari anak muda nol literasi kemudian jadi mahasiswa.

Taman bacaan atau perpustakaan masyarakat jadi daya dorong bagi mereka menuju literasi yang bermanfaat, yaitu literasi kesejahteraan.

Tajil, tajil, siapa mau beli!

#rumahdunia #puasa2021 #tamanbacaan #literasikesejahteraan #literasikeuangan #golagong #gerakanliterasinasional #perpustakaanmasyarakat

Please follow and like us:
error2
fb-share-icon0
Tweet 5