Dari Gempa Literasi ke Safari Literasi, Membuatku Hidup Berdaya dengan Buku

Gempa Literasi adalah semacam gempa yang menghancurkan kebodohan, gempa yang membangun peradaban baru.Semua berdasarkan pengalaman masa kecil saya. Setelah tangan kiri saya diamputasi, orangtua saya menyediakan perpustakaan di rumah, menyuruh saya bercerita di depan saudara atau teman-teman kecil, menggambar, ikut pameran lukis, membuat komik, membuat sandiwara radio, berdiskusi, ikut pelatihan, membuat wayang dari kertas, traveling mengenal daerah lain…

Pertemuan yang tidak Terduga Antara Penulis dan Pembacanya, dari Gita Remaja TVRI ke Nagekeo

Ada cerita menarik di Nagekeo. Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Nagekeo. Renat Fernandes. Pada 1990, Renata pernah enonton acara Gita Remaja di TVRI. “Saat itu saya baru lulus kuliah S1 di Malang,” kisahnya. “Saya melihat nara sumbernya adalah Gol A Gong. Sekarang, 32 tahun kmudian, saya bertemu dengan Gol A Gong di Nagekeo, saat saya jadi Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan,” katanya.

Jadi Orang Rote Saat Safari Literasi NTT

Foto ini saya ambil dari Museum Literasi Gol A Gong. Ini menyimpan banyak kenangan. Ini tentang Kepala Desa Noelbaki, Kabupaten Kupang, NTT, memasangkan topi khas pulau Rote – Ti’i Langga kepada saya, Sabtu 9 April 2022. Saya Jadi Orang Rote Saat Safari Literasi NTT.

Kopi Jahe di Ende, Betapa Nikmat

Saya selalu menyenangi suasana pagi jika sedang berada di sebuah kota, yang baru saya datangi. Ende. Saya datang pertamakali ke Ende pada 1987. Kedua diundang Nila Tanzil pada 2019, menghadiri Festival Literasi Ende – perayaan ulang tahun ke-10 Taman Bacaan Pelangi.

Ende tidak akan pernah saya lupakan, selain Bung Karno yang menemukan 5 filosofi ideologi negara dalam Pancasila, juga kopi jahenya.

Efektivitas Safari Literasi dalam Mendukung Gerakan Indonesia Menulis

Oleh Jauza Imani, Pegiat Literasi di Lampung – Relawan Rumah Dunia

Gol A Gong, Duta Baca Indonesia, mengajak semua orang Indonesia bisa berdaya dengan buku. Penulis ternama ini membuat suatu gerakan yang dinamakan Gerakan Indonesia Menulis, tentunya setelah membaca. Safari Literasi adalah salah satu kegiatan yang dilakukan untuk mendukung gerakan tersebut. Bentuk kepedulian dan tanggung jawab sosial yang harus mendapat apresiasi.

Tradisi Tuak Curu dan Manuk Kapu di NTT

Saya dan tim Safari Literasi pada 9 – 11 Maret 2022 berkunjung ke Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat. Kami naik kapal ferry dari Sape, Sumbawa. Menjelang senja, ferry merapat di dermaga.

Tiba-tiba semua kendaraan distop dulu. Hanya boleh mobil kami yang pertama keluar. Sejak di Sape, posisi mobil kami juga sudah diatur ABK, gaar brada pada posisi di depan. Ternyata dari Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat dan Provinsi NTT menyiapkan sambutan upacara penjemputan  khas Manggarai berupa “tuak curu” dan “manuk kapu”.

Kenangan Timor yang Tak Akan Kulupakan

Ketika Sabtu 2 April 2022, sekitar pukul 07:00 WITA, tim Safari Literasi Duta Baca Indonesia – Perpusnas RI merapat di dermaga Bolok – Sinau, Kupang, kenangan saya terlempar ke tahun 1986.. Saya naik perahu dari Ende ke Rote, terus ke Kupang. Saya menyusuri Timor Timur: mulai dari Kupang Soe, Atambua, naik truk, pick up, kadang naik mobil bus kecil. Pokoknya sambung-menyambung hingga Dilli. Saat itu saya jadi gembel backpacker– tidur di mesjid, koramil, atau polsek. Masjid sabat sulit di Timor, tapi selalu ada dan bisa kutemukan karena toleransi begitu tinggi.

error

Enjoy this blog? Please spread the word :)