Tips Menulis Gol A Gong: Menulis Puisi Saat Traveling Ibarat Instrospeksi Diri

Saat menyusuri sungai menuju Telok Pakedai, aku menulis puisi pendek:

NARSISUS

di sungai aku berkaca
keruh airnya
narsisus menarik-narik
memberiku kekuatan
memuji diri sendiri

di sungai tiba-tiba membayang
wajahmu dengan segenap kenangan

Kalbar 7 Maret 2020

Kita semua tahu, Narsisus adalah tokoh pemuda tampan dalam mitologi Yunani. Dia merasa paling tampan dan ketika melihat bayangannya sendiri memantul di permukaan sungai, dia resah gelisah.

Begitulah, puisi yang tak selesai kutulis. Itu tentang keresahanku ketika melihat banyak baliho di setiap tikungan jalan, dihampir setiap kota yang kusinggahi. Kadang mereka berdiri pongah penuh kepalsuan di atas bak sampah. Di kampungku – Banten, juga begitu. Semua berlomba memuji-muji diri sendiri. Sebetulnya itu manusiawi. Tapi ketika itu berbicara di ranah publik demi kekuasaan dan faktor ekonomi, itu jadi sesuatu yang memanipulasi atau kebohongan. Barangkali aku pun begitu.

Setiap melakukan perjalanan – sejak 1980-an, aku sudah bertemu dengan berbagai “guru jalanan”. Aku jadi tidak begitu suka sekolah. Aku belajar dari mereka. Ada yang selalu kukenang dari pelajaran berharga mereka, yaitu “bahwa kita adalah setara”.

Kemudian aku menulis puisi, mengingatkanku agar tidak sombong :

CAKRAWALA
-Kepada para pemberani

Ada katak dalam tempurung
Dia merasa sudah melihat dunia
Ada anak datang dari kampung
Dia merasa sudah menaklukkan dunia
Padahal peta perjalanan membentang luas
Menantang para pemberani mengarungi
Dengan atau tanpa perahu

*) Purwakarta, 28 Maret 2008


Membangun peradaban baru di Komunitas Rumah Dunia bersama Toto St Radik, Rys Revolta dan itriku – kemudian di fase awal dibantu para sahabat seperti Andi Suhud TrisnahadiMaulana Wahid Fauzi , Bagus Bageni, dan Abdul Malik , aku diingatkan bekali-kali oleh Emak dan Bapak, bahwa suatu saat akan ditinggalkan. Itu hukum alam. Di dunia satwa malah lebih ganas, yang tua dilindas. Hukum alam memang begitu.

Tapi semakin tua, aku ingin tetap semakin produktif menemani yang muda-muda di Komunitas Rumah Dunia. Maka aku menulis puisi :

SAPU LIDI

Di setiap rumah ada sapu lidi
Semua berebut membersihkan diri
Satu lepas, semua mengumpulkan
Mengikatnya kembali
Kuat-kuat

Setiap sapu lidi anak-anak masa depan
Mereka tak boleh bercerai berai
Aku mengajari mereka waspada tiga hal
tahta, harta, wanita

Satu lidi milikku telah dirampas tahta
Satu persatu menghamba hina pada lainnya
Aku tak punya hak lagi mengikatnya
Mereka telah menentukan pilihan

Sapu lidi ada di mana-mana
Kuharap semua mengikat erat talinya

*) Tanah Abang, 12/4/2013


Begitulah hidupku, kawan. Selalu gelisah melhat sekeliling. Aku bisa belajar banyak dari sana untuk terus memperbaiki diri. Kamu, bagaimana?

*) Rumah Dunia, Serang 3 Juni 2020

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==