Puisi Gol A Gong: Aku Sudah Berkali-kali

Aku gegar otak tapi sempat menulis pesan: Apakah para penghasut sudah ditangkapi?

Teman-temanku bingung menjawabnya lebih mudah menangkapi koruptor dia bisa berbagi duit di bui jika penghasut licin bagai belut didor saja di jalanan

Aku gegar otak tapi sempat menikmati berita TV: Apakah kita masih marah saat beragama?

Aku kini sudah mati berkali-kali orang menghidupkanku lagi dan lagi

*) Gol A Gong, Rumah Dunia 20-11-2020

Please follow and like us:
error1
fb-share-icon0
Tweet 5

Bagaimana Menghidupkan Puisi Pembuka di Film Balada Si Roy

Sebagai anak Sastra UNPAD Bandung, 1982-1985, secara moral saat itu saya prihatin menyadari puisi berjarak jauh dengan anak muda Indonesia. Karya pertama saya adalah puisi (1981). Itu sebab saya ingin puisi dikenal secara luas. Strategi yang saya ambil adalah menyelipkan puisi di novel Balada Si Roy. Saya dengan sadar membidik pembaca remaja dan memilih Majalah HAI, karena distribusinya menyentuh kota-kota di seluruh Indonesia.

Selain saya mengutip penulis dunia, saya juga meminta bantuan kepada Toto St Radik , Rys Revolta, Tias Tatanka , Dang Suganda, Dadi RSn, dan Heri H Harris. Tentu puisi-puisi Toto ST Radik memberi warna tersendiri dan paling sering dikutip oleh pembaca. Konon para remaja bandel waktu itu, sering menggunakan puisi Toto ST Radik untuk merayu cewek.

Please follow and like us:
error1
fb-share-icon0
Tweet 5

Puisi Itu Pengalaman Puitik Penulisnya

Seminggu di bulan akhir November 2020 ini saya merenung. Pertikaian agama, Covid-19, masker, dakwah, nabi, imam besar, presiden, gubernur, koruptor, Pilkada serentak memnuhi kepala. Saya sedih karena tidak mampu berbuat apa-apa. agama dan politik, betapa rumit.

Maka jadilah puisi di bawah ini. Jangan takut puisi yang kita tulis dicap jelek. Kalau dikritik sampah, jangan marah atau putus asa. Biarkan saja. Tugasmu mendokumentasikan perasaanmu sudah selesai. Tulis lagi puisi yang lain dan jadikan kritikan tadi penyemangat untuk memperbaiki diri.

Please follow and like us:
error1
fb-share-icon0
Tweet 5

Puisi Corona: Bianglala Tersenyum, Sayang!

Aku hitung harapan di berita kota, Sayang
headline itu tidak memisahkan cinta kita.
Suara di mickrofon memenuhi udara
Katamu, “Kita tidak terasing dari dunia.”

Hari berganti serupa bianglala, Sayang
semua warna tersenyum dalam lukisan
Jam berdetak menari di atas kepala
Katamu, “Masih ada yang bisa dipercaya.”

Kita berjalan di halaman depan, Sayang
pagi tadi anak-anak berlarian di rumput basah.
Apa yang kita tanam tumbuh mengangkasa
Katamu, ” Kita menuliskan wabah dalam puisi.”

Gol A Gong
Rumah Dunia, 11 April 2020

Please follow and like us:
error1
fb-share-icon0
Tweet 5

Menulis Puisi Saat Traveling

Oh, pandemi Covid-19. Aku rindu traveling. Aku rasa semua orang juga begitu, merindukan aroma jalanan. Sejak 7 Maret 2020, aku tidak ke mana-mana, berdiam diri di rumah, mengurusi Kelas Menulis Gol A Gong secara online. Terakhir aku traveling, awal Maret 2020 lalu, menjelajah sungai bersama relawan Rumah Dunia – Rudi Rustiadi dan Ahmad Sofian dari Komunitas Travel Blogger di Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat.

Saat menyusuri sungai menuju Telok Pakedai, aku tidak menulis travel writing atau catatan perjalanan, tapi justru menulis puisi pendek:

Please follow and like us:
error1
fb-share-icon0
Tweet 5

Setiap Traveling, Menulis Puisi Cermin Diri

Oh, pandemi Covid-19. Aku rindu traveling. Aku rasa semua orang juga begitu, merindukan aroma jalanan. Terakhir aku traveling, awal Maret 2020 lalu, menjelajah sungai bersama relawan Rumah Dunia – Rudi Rustiadi dan Ahmad Sofian dari Komunitas Travel Blogger di Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat.

Saat menyusuri sungai menuju Telok Pakedai, aku menulis puisi pendek:

NARSISUS

di sungai aku berkaca
keruh airnya
narsisus menarik-narik
memberiku kekuatan
memuji diri sendiri

di sungai tiba-tiba membayang
wajahmu dengan segenap kenangan

Kalbar 7 Maret 2020

***

Please follow and like us:
error1
fb-share-icon0
Tweet 5

Lima Puisi Tentang Laut Oleh Gol A Gong

1.
ODE NELAYAN

Negeriku berkibar tanpa arah
angin tak bisa lagi membaca cuaca
aku melempar jala ke muara
cintamu hanyut menuju samudra

Kisahmu yang mendunia
terhempas gelombang
tertimbun lumpur
terang bulan bukan lagi untukku
ikan-ikan berpindah ke dalam kaleng
aku melarung perahu
tanpa sesajen

Cintaku, laut menjauh
cakrawala terhalang kapal perompak
kopiku sudah lama dingin
air laut berpindah ke dalamnya

Karangantu Oktober 2017

#

Please follow and like us:
error1
fb-share-icon0
Tweet 5