Sayembara Manuskrip Puisi DKJ 2021

Dalam pidato radionya pada 1946, Chairil Anwar membahas sejumlah sajak yang kemudian ia golongkan sebagai sajak yang –dari sisi bentuk dan isi— telah mampu melepaskan diri dari pengaruh Pujangga Baru, dan yang belum.

Dengan mudah kita mafhum bahwa saat itu Chairil Anwar sedang menggarisbawahi sesuatu yang menggembirakan dalam konteks perkembangan puisi Indonesia modern, yaitu kebaruan.

Sepanjang rentang waktu sejak pidato itu disiarkan hingga hari ini, dunia kepenyairan Indonesia mencatat kemunculan banyak nama. Sebagian seperti membeku dalam jejak para pendahulu, sebagian lainnya berhasil melahirkan bentuk dan isi baru. Dalam ikhtiar pengayaan khazanah puisi Indonesia, kebaruan akan selalu digarisbawahi sebagai sesuatu yang menggembirakan.

Please follow and like us:
error0
fb-share-icon0
Tweet 5

Berbuka dengan Puisi

Setiap pulang ke rumah dari sebuah perjalanan, oleh-oleh untuk anak dan istri adalah prosa dan puisi. Aku tak sanggup memasukkan Indonesia yang indah ini ke dalam blue ransel yang setia kusandang ke mana pun pergi. Apalagi memasukkan masjid-masjidnya, yang begitu megah-mewah, sementara para kiyai dan jamaahnya mikin-miskin.

Ketika aku jelajahi Sumatra selama 50 hari (1 Mei – 23 Juni 2013), aku menemukan sedikit sekali orang Indonesia yang menyukai puisi. Ketika di Dewan Kesenian Riau, tak lebih dari 50 orang berpesta puisi, kalah riuh dengan ribuan orang Riau yang menonton pertunjukkan band. Begitu juga ketika aku berziarah ke makam Raja Ali Haji di Pulau Penyengat, tak banyak gurindam atau buku puisi dilahirkan dari pulau ini. Warganya terlalu sibuk menyambut para wisatawan asing dan domestik serta mengantarkannya dengan becak motor berkeliling pulau.

Please follow and like us:
error0
fb-share-icon0
Tweet 5

Puisi Gol A Gong: Aku Sudah Berkali-kali

Aku gegar otak tapi sempat menulis pesan: Apakah para penghasut sudah ditangkapi?

Teman-temanku bingung menjawabnya lebih mudah menangkapi koruptor dia bisa berbagi duit di bui jika penghasut licin bagai belut didor saja di jalanan

Aku gegar otak tapi sempat menikmati berita TV: Apakah kita masih marah saat beragama?

Aku kini sudah mati berkali-kali orang menghidupkanku lagi dan lagi

*) Gol A Gong, Rumah Dunia 20-11-2020

Please follow and like us:
error0
fb-share-icon0
Tweet 5

Bagaimana Menghidupkan Puisi Pembuka di Film Balada Si Roy

Sebagai anak Sastra UNPAD Bandung, 1982-1985, secara moral saat itu saya prihatin menyadari puisi berjarak jauh dengan anak muda Indonesia. Karya pertama saya adalah puisi (1981). Itu sebab saya ingin puisi dikenal secara luas. Strategi yang saya ambil adalah menyelipkan puisi di novel Balada Si Roy. Saya dengan sadar membidik pembaca remaja dan memilih Majalah HAI, karena distribusinya menyentuh kota-kota di seluruh Indonesia.

Selain saya mengutip penulis dunia, saya juga meminta bantuan kepada Toto St Radik , Rys Revolta, Tias Tatanka , Dang Suganda, Dadi RSn, dan Heri H Harris. Tentu puisi-puisi Toto ST Radik memberi warna tersendiri dan paling sering dikutip oleh pembaca. Konon para remaja bandel waktu itu, sering menggunakan puisi Toto ST Radik untuk merayu cewek.

Please follow and like us:
error0
fb-share-icon0
Tweet 5

Puisi Itu Pengalaman Puitik Penulisnya

Seminggu di bulan akhir November 2020 ini saya merenung. Pertikaian agama, Covid-19, masker, dakwah, nabi, imam besar, presiden, gubernur, koruptor, Pilkada serentak memnuhi kepala. Saya sedih karena tidak mampu berbuat apa-apa. agama dan politik, betapa rumit.

Maka jadilah puisi di bawah ini. Jangan takut puisi yang kita tulis dicap jelek. Kalau dikritik sampah, jangan marah atau putus asa. Biarkan saja. Tugasmu mendokumentasikan perasaanmu sudah selesai. Tulis lagi puisi yang lain dan jadikan kritikan tadi penyemangat untuk memperbaiki diri.

Please follow and like us:
error0
fb-share-icon0
Tweet 5

Puisi Corona: Bianglala Tersenyum, Sayang!

Aku hitung harapan di berita kota, Sayang
headline itu tidak memisahkan cinta kita.
Suara di mickrofon memenuhi udara
Katamu, “Kita tidak terasing dari dunia.”

Hari berganti serupa bianglala, Sayang
semua warna tersenyum dalam lukisan
Jam berdetak menari di atas kepala
Katamu, “Masih ada yang bisa dipercaya.”

Kita berjalan di halaman depan, Sayang
pagi tadi anak-anak berlarian di rumput basah.
Apa yang kita tanam tumbuh mengangkasa
Katamu, ” Kita menuliskan wabah dalam puisi.”

Gol A Gong
Rumah Dunia, 11 April 2020

Please follow and like us:
error0
fb-share-icon0
Tweet 5

Menulis Puisi Saat Traveling

Oh, pandemi Covid-19. Aku rindu traveling. Aku rasa semua orang juga begitu, merindukan aroma jalanan. Sejak 7 Maret 2020, aku tidak ke mana-mana, berdiam diri di rumah, mengurusi Kelas Menulis Gol A Gong secara online. Terakhir aku traveling, awal Maret 2020 lalu, menjelajah sungai bersama relawan Rumah Dunia – Rudi Rustiadi dan Ahmad Sofian dari Komunitas Travel Blogger di Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat.

Saat menyusuri sungai menuju Telok Pakedai, aku tidak menulis travel writing atau catatan perjalanan, tapi justru menulis puisi pendek:

Please follow and like us:
error0
fb-share-icon0
Tweet 5