Lima Puisi Tentang Laut Oleh Gol A Gong

1.
ODE NELAYAN

Negeriku berkibar tanpa arah
angin tak bisa lagi membaca cuaca
aku melempar jala ke muara
cintamu hanyut menuju samudra

Kisahmu yang mendunia
terhempas gelombang
tertimbun lumpur
terang bulan bukan lagi untukku
ikan-ikan berpindah ke dalam kaleng
aku melarung perahu
tanpa sesajen

Cintaku, laut menjauh
cakrawala terhalang kapal perompak
kopiku sudah lama dingin
air laut berpindah ke dalamnya

Karangantu Oktober 2017

#

Please follow and like us:
error1
fb-share-icon0
Tweet 5

Menulis Puisi Saat Traveling Ibarat Instrospeksi Diri

Oh, pandemi Covid-19. Aku rindu traveling. Aku rasa semua orang juga begitu, merindukan aroma jalanan. Terakhir aku traveling, awal Maret 2020 lalu, menjelajah sungai bersama relawan Rumah Dunia – Rudi Rustiadi dan Ahmad Sofian dari Komunitas Travel Blogger di Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat.

Saat menyusuri sungai menuju Telok Pakedai, aku menulis puisi pendek:

NARSISUS

di sungai aku berkaca
keruh airnya
narsisus menarik-narik
memberiku kekuatan
memuji diri sendiri

di sungai tiba-tiba membayang
wajahmu dengan segenap kenangan

Kalbar 7 Maret 2020

Please follow and like us:
error1
fb-share-icon0
Tweet 5

Mimpi Membangun Tradisi Baca-Tulis di Banten

Di jalan kereta api Penancangan, Kota Serang, 1990. Toto St Radik, Rys Revolta (ditemukan terapung di pantai Sirih, Anyer, Serang, 2004), dan Gol A Gong. Mereka membangun mimpi yang besar, tumbuhnya peradaban baru di Banten, yaitu tradisi membaca-menulis! Bahkan bangku kuliah pun mereka tinggalkan. Mereka bermuara di Komunitas Rumah Dunia pada tahun 2000. Itulah persamaan mereka saat itu, senasib sepenanggungan, meninggalkan kuliah dengan alasan heroik…

Please follow and like us:
error1
fb-share-icon0
Tweet 5