Tokoh, misalnya. Dia tidak selalu harus tokoh baik (protagonis), tapi juga antagonis. Pesan baik tidak selalu harus disampaikan oleh tokoh baik. Tokoh antagonis kadang lebih cepat diterima. Misalnya dalam film Joker (musuh Batman). Kita jadi empati dan merasa iba pada Joker, sehingga kita terdorong untuk tidak merundung teman-teman kita yang memiliki kekurangan.

Setting lokasi yang bervariasi dan menarik untuk kemudian dikunjungi pembaca. Ini tantangan bagi kita. Setting lokasi yang memiliki latar belakang sarah, geografisnya, kulinernya, falsafah hidupnya, kebudayaannya, destinasi wisatanya, dan masih banyak lagi. Novel Ayat-ayat Cinta karya Habiburahman El-Shirazy contoh yang baik. Dengan setting lokasi Mesir, para pembaca kemudian melakuan wisata ke tempat-tempat yang ada di novel itu. Di novel Balada Si Roy karya saya juga begitu. Banyak pembaca yang datang ke Banten; mereka mengunjungi setting lokasi dan mencicipi kuliner yang ada di Banten.

Dan setting waktu tertentu yang memiliki kaitan antara suasana dan peristiwa tertentu. Misalnya dalam novel terbaru saya di platform digital Storial.co yang berjudul “Lelaki di Tanah Peaan’ setting waktunya kekinian dengan cerita dan peristiwa di masa pandemi Covid-19. Maka masker, suntik vaksin, alat pelindung diri, dan isolasi mandiri bertaburan di novelnya.

Nah, silakan dicoba, ya. Harus sabar saat menulis novel. Ingat: membaca itu sehat, menulis itu hebat.
Gol A Gong


