Lilo mengaku sejak memulai karirnya, ia kuliah sambil siaran dan sempat berpindah-pindah radio. Ia bercerita, awalnya hanya mengantar temannya yang melamar jadi penyiar di salah satu radio di Rangkas.
“Eh, akhirnya saya ikut nyoba tes, Alhamdulillah, karena saya suka dengan musik, saat tes wawasan musik, saya lolos. Dari situ mungkin jadi point plus saya. Sejak itu saya jadi penyiar di radio Dinamika FM Rangkasbitung. Tahun 2004 saya pindah radio. Pindah ke radio yang agak dekat dengan Serang, karena kuliah saya di Serang. Saya siaran di radio Pimas FM di Kopo Serang Timur sampai 2006,” ujar Lilo.

Setelah lulus kuliah pada 2006, ia mencoba mencari radio di pusat Kota Serang. Saat itu Lilo mengaku bersyukur karena diterima di Megaswara FM Serang.
“Waktu itu Megaswara identik dengan radio dangdut. Karena persaingan dengan radio-radio lain, Megaswara berinovasi membuat acara untuk lagu pop, dan acaranya tiap weekend. Saya masuk sebagai penyiar pop. Kemudian, karena pengasilan sebagai penyiar weekend gak mencukupi untuk hidup di Serang, akhirnya balik kampung ke Rangkas. Sempat nganggur dan ngisi waktu dengan ngajar di Aliyah. Qadarullah, saya diterima kerja di radio Surya FM Rangkasbitung hingga 2009. Jadi aktivitas siaran sambil ngajar,” kenang Lilo.

Perjalanan panjang Lilo pada dunia radio tidak berhenti sampai di situ. Pada 2009-2018, ia dipindahkan ke radio GNJ FM Rangkasbitung yang masih satu manajemen dengan Surya FM. Tahun 2019 karena di Multatuli FM bagian produksi iklan meninggal dunia, Lilo kemudian ditawarkan untuk bergabung di sana.
“Waktu itu saya terima. Praktis dari tahun 2019 sampai sekarang saya kerja di radio Multatuli FM sebagai penyiar dan voice over,” paparnya.

Sekarang Lilo mengaku tidak hanya berfokus pada penyiar saja, tapi ia juga menjajal dunia Mc (Master of Ceremony) atau pembawa acara. Baginya dunia Mc itu menarik, sebab segala acara itu ada di tangan Mc.
“Jadi saya sebagai MC yang mengatur segala sesuatunya bisa on the track atau hancur,” ungkap ayah tiga anak ini.

Di dunia Mc, Lilo mengaku sebetulnya tidak ada ketertarikan sama sekali, mungkin karena faktor penyiar saja. “Kemudian saya dipertemukan dengan salah seorang programmer, namanya Rahmat Septiadi. Dia yang mengenalkan saya dari panggung ke panggung,” cerita Lilo.
Ia masih ingat, dulu ia diajak ngemsi di panggung hiburan dangdut dan di acara hajatan. Dari sana awal pertama kali Lilo jadi Mc. Ia mengaku, masih agak nervous. Setelah itu Lilo kembali diajak untuk road show di seluruh Banten pada event yang ada kerjasama dengan radio.

“Itu acara dangdut dengan marketnya jualan rokok, dari situ saya ikut-ikutan nemenin Bang Rahmat untuk ngemsi. Itu awal mula saya berhadapan dengan orang banyak,” ujarnya.
Kini Lilo sudah cukup malang-melintang di dunia Mc maupun penyiar. Lilo juga sudah pernah menjadi Mc pada acara wedding, grand opening dan launching toko baju, peluncuran buku, milad partai, festival musik, lomba-lomba karaoke, seminar parenting, seminar pendidikan, ulang tahun anak-anak, podcast, dan acara-acara yang bersifat charity lainnya.

Saat ditanya bagaimana tips agar bisa menjadi seorang Mc, Lilo menjelaskan modal pertama adalah kepercayaan diri yang tinggi. Tapi kepercayaan diri saja tidak cukup. Ia harus diimbangi dengan pengetahuan.

“Makanya penting juga untuk mengikuti perkembangan zaman, sering baca buku, update yang kekinian, dan itu bisa kita cari di sosial media, di YouTube dan lain sebagainya. Supaya kita tidak ketinggalan zaman. Dan juga biasanya berpengaruh terhadap spontanitas kita dalam berbicara. Kalau enggak up to date, biasanya kita akan lola,” jelas Lilo.
Tips selanjutnya, masih dikatakan Lilo, bisa dilatih bagaimana cara menguasai panggung, kemudian juga bagaimana improviasi ketika rundown acaranya berbelok atau ada perubahan-perubahan yang mendadak. “Untuk suara itu bisa dilatih supaya enak didengar, supaya produksi suara terdengar empuk saat didengar oleh audiens,” katanya.


