Selebihnya Lilo mengaku banyak belajar Mc dari maestro-maestro seperti pada Choky Sitohang dan Alvin Adam dan Mc lain.
Tantangan menjadi Mc diakui Lilo tergantung dari acara yang dibawakan. Saat menjadi Mc wedding misalnya, otomatis nilai kesakralannya tinggi. Karena kaitannya dengan menikah kemudian juga diharapkan sekali dalam seumur hidup.

“Maka tantangannya, kita harus bisa membuat acara tersebut jangan sampai ada cela yang salah. Biasanya tantangannya kalau wedding itu agar perpindahan tiap acara itu harus rapet enggak boleh ada celah sedikit pun. Misal, habis dari sambutan kedatangan calon mempelai pria, disambut dengan sambutan calon mempelai wanita, kemudian langkah berikutnya akad nikah. Tiba-tiba penghulunya belum datang, nah itu kan kosong, ya. Jadi cukup berat juga mengisi bagaimana cara berimprovisasi supaya mengisi kekosongan tersebut. Tapi kalau misalnya itu sudah di konsep sedemikian rupa, sebelumnya sudah dihubungi penghulunya, akan datang jam berapa, itu lebih mudah bagi kita tanpa celah kesalahan sedikit pun,” kata Guru Bahasa Indonesia di SMA Islam Terpadu Al-Qudwah Rangkasbitung ini.

Tantangan lainnya yang sangat berasa ketika ada perubahan rundown pada hari H. Misalnya tiba-tiba ada salah satu pengisi acaranya tidak hadir, maka selaku Mc harus bisa lekas mencari penggantinya. Atau tiba-tiba misal lampu mati, proyektor misalnya tidak bisa dioprasikan dan hal-hal teknis lainnya yang diluar kemampuan, maka tugas Mc bagaimana caranya agar tidak sampai mati gaya.
“Mc harus tetap ngomong untuk mengisi kekosongan tersebut, supaya mata audiens tetap tertuju pada acara dan tidak terganggu dengan urusan teknis. Paling itu sih tantangan yang paling terberat,” ujar salah satu penulis buku Antologi Cerpen Gilalova ini.

Lilo mengaku, pengalaman yang paling menarik saat jadi Mc itu ketika bertemu dengan artis pendatang baru. “Pernah juga ketemu sama Ungu waktu belum sekeren sekarang. Ketemu sama artis-artis penyanyi dangdut, band-band yang lagi promo di radio. Serunya lagi banyak pendengar, apa lagi dulu waktu zamannya belum ada sosial media, belum ada YouTube, radio itu paling didengerin dan biasanya ada beberapa penggemar yang ngefans sama suara penyiar tersebut, lalu ketemuan, bisa saja jadian, dan bisa saja berteman dan akrab sampai sekarang. Serunya lagi kadang suka dibawain makanan sama pendengar radio pas lagi siaran malam-malam sendirian suka ditemenin dan dibawain makanan gitu. Kalau lagi ulang tahun suka dirayain,” pungkasnya.


