Sesampainya di Bandara Juanda, saya langsung memesan kendaraan online yang tersedia. Driver yang ramah dan hobi bercerita. Perjalanan dari Bandara Juanda ke Stasiun Gubeng jadi tak terasa, meski obrolan di dominasi dengan obrolan politik. Tapi perjalanan jadi terasa cepat.

Sampai di stasiun masih hujan . Sebagai orang kampung, saya dan Beatrik agak sedikit gagal dengan segala kecanggihan yang ada di stasiun. Dari mulai chek in mandiri, makanan siap saji, juga sajian musik yang ramah di pojok stasiun di luar pintu masuk.

Tapi ada satu yang menarik perhatian saya, yakni air isi ulang gratis yang di sediakan PT KAI. Hal yang sederhana namun berdampak luas . Kebetulan sayapun membawa tumbler. Kebiasaan ini saya dapatkan dari bergaul bersama teman teman Murarame, Flores Timur.

Ya, isu perubahan iklim adalah tanggung jawab bersama dan hal yang paling sederhana di antaranya meminimalkan penggunaan air minum kemasan sekali pakai. Kita jaga bumi , bumi jaga kita begitu slogan yang sering disuarakan teman teman Murarame Flores Timur.

Sambil menulis berita ini, 30 Januari 2024 di stasiun Gubeng, kami menunggu kedatangan kereta api Turangga menuju Yogyakarta. Kami mengikuti Workshop Dramaturgi Postdramatik dalam teater dokumenter yang diadakan Konferensi Pertunjukan dan Teater Indonesia bekerja sama dengan Goethe Institute, Indonesia Dramatik Reading Festival, Jakarta Art Council dan Tanah Indie. Inipun jadi pengalaman pertama kami naik kereta eksekutif . Entah rasanya akan seperti apa .



