Kita tahu filosofi Baduy di Banten Selatan, “Gunung teu meunang dilebur, lebak teu meunang diruksak, pendek teu meunang disambung, lojong teu meunang dipotong.” Artinya gunung tidak boleh dihancurkan, dataran tak boleh dirusak, pendek tidak boleh disambung, panjang tidak boleh dipotong. Itu bermakna, bahwa apa yang sudah ada syukuri dan rawat baik-baik.

Saya sering kena oleh orang Baduy di Banten Selatan. Misalnya, menginjak tanah larangan, mandi di sungai memakai sabun dan shampo, memotret diam-diam, masuk membawa orang asing ke rumah mereka tanpa permisi.
Kata seorang warga Baduy Dalam, “Masuk ke rumah kamu tanpa permisi. Memotret istri dan anak kamu diam-diam. Kamu mau, nggak?”

Aku kini paham, orang Baduy di Banten Selatan bukan pajangan. Mereka memiliki cara berpikir modern dengan berdampingan hidup bersama alam sekitar. Pesan-pesan itu mereka sampaikan kepada kita lewat tradisi: seba Baduy. Hanya saja kita menjadikan orang Baduy di Banten Selatan sebagai objek wisata. Mestinya kita menghargai mereka dengan cara bersama-sama merawat alam dan hidup hidup setara. (*/Foto-foto dengan orang Baduy di markas Relawan Banten pimpinan Muhammad Arif Kirdiat)
Gol A Gong



