Traveling: Baduy di Banten Selatan Bukan Objek Wisata

Kita tahu filosofi Baduy di Banten Selatan, “Gunung teu meunang dilebur, lebak teu meunang diruksak, pendek teu meunang disambung, lojong teu meunang dipotong.” Artinya gunung tidak boleh dihancurkan, dataran tak boleh dirusak, pendek tidak boleh disambung, panjang tidak boleh dipotong. Itu bermakna, bahwa apa yang sudah ada syukuri dan rawat baik-baik.

Muhammad Arif Kirdiat (kiri) selalu kedatangan orang Baduy dalam yang menjual madu asli di markasnya, Relawan Banten.

Saya sering kena oleh orang Baduy di Banten Selatan. Misalnya, menginjak tanah larangan, mandi di sungai memakai sabun dan shampo, memotret diam-diam, masuk membawa orang asing ke rumah mereka tanpa permisi.

Kata seorang warga Baduy Dalam, “Masuk ke rumah kamu tanpa permisi. Memotret istri dan anak kamu diam-diam. Kamu mau, nggak?”

Batik Baduy, menyokong produk lokal

Aku kini paham, orang Baduy di Banten Selatan bukan pajangan. Mereka memiliki cara berpikir modern dengan berdampingan hidup bersama alam sekitar. Pesan-pesan itu mereka sampaikan kepada kita lewat tradisi: seba Baduy. Hanya saja kita menjadikan orang Baduy di Banten Selatan sebagai objek wisata. Mestinya kita menghargai mereka dengan cara bersama-sama merawat alam dan hidup hidup setara. (*/Foto-foto dengan orang Baduy di markas Relawan Banten pimpinan Muhammad Arif Kirdiat)

Gol A Gong

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==