Lantas apa hubungannya traveling dengan raket? Belum banyak yang tahu jika saya ini atlet badminton. Prestasinya juga lumayan. Saat SMA, prestasi badminton saya di Banten juara kedua. Juara pertama, tangannya dua. Saya dengan satu tangan.

Jika di level atlet cacat Indonesia (PON Penyandang Cacat), sepanjang 1985-1989, saya adalah pemegang medali emas badminton untuk single, double, dan beregu (mewakili kontingeng Jawa Barat). Di level Asian Para Games, saya menyabet 5 medali emas cabor badminton.


Jadi jika sedang traveling kehabisan dana, yang saya lakukan adalah mendatangi gedung olah raga. Saya duduk di tribun; saya mengamati dan menebak level orang-orang yang sedang bermain badminton. Setelah yakin bisa mengalahkan jagoan di kampung itu, saya tantang mereka. Saya tunjukkan raket yang saya bawa. Syaratnya, mereka harus membayar saya.

Begitulah saya mendanai traveling di era 1980-1987, sebelum saya jadi penulis dengan nama pena Gol A Gong seperti sekarang ini. Setelah jadi penulis dan bekerja sebagai wartawan di Kelompok Kompas Gramedia (1989-93) hingga sekarang, saya berhenti main badminton. Saya gantung raket dan memilih memaksimal kecerdasan linguistik saya.
Gol A Gong


