Aku jadi teringat beberapa kejadian di India bersama Tias. Aku mengajak Tias naik kereta api dari New Delhi ke kota Agra di mana Taj Mahal mendunia.

“Tapi tidak boleh bawa ransel!”
“Baju ganti?”
Aku menggeleng.
Dua ransel kami simpan di loker stasiun New Delhi. Aku dan Tias hanya membawa pakaian yang melekat di badan saja. Kenapa harus begitu?

“Kalau ingin mendapatkan seseuatu saat traveling, kita harus berproses menjadi mereka,” kataku.
Tias mulai memahami. Jika kita sering ke India, secara mayoritas, penduduk India memang miskin.

Rata-rata mereka berpenampilan sederhana, serupa dengan para buruh bangunan dengan pakaian kotor dan lusuh. Kadang mereka hanya bersarung saja dengan kaos singlet. Mereka tidur di sembarang tempat, buang air besar dan kecil di taman dan selokan.


