Saya berjalan ke pintu gerbang hotel. Persis di sana ada 3 pedagang keliling dengan motor memarkir di trotoar jalan. Cilok, roti bakar, dan kue kampung. Saya cari bakwan, buras, dan kroket, ternyata cuma donat dan nagasari. Saya jadi teringat puisi Nagasari karya Zawawi Imron dari Sumenep, Madura:

NAGASARI
Puisi Zawawi Imron
Membuka kulit nagasari
isinya bukan pisang madu
tapi mayat anak gembala
yang berseruling setiap senja.
Membuang kulit nagasari
seorang nakhoda memungutnya
dan merobeknya jadi dua
separuh buat peta
separuh buat bendera kapalnya.
Puisi yang terinspirasi dari kuliner makanan atau minuman, saya suka. Beberapa puisi saya juga terinspirasi dari kuliner. Misalnya puisi di bawah ini:

50 CANGKIR KOPI
Puisi Gol A Gong
Setahun secangkir kopi
lima puluh tahun berarti
tidak secangir lagi
berpuluh-puluh cangkir
tentu bersamamu
tidak hanya di kedai kopi
tanpa nyala lampu
kadang di kebun kopi
bersama bising peluru
bahkan kilatan senjata
tadi malam kugenapkan
cangkir kelima puluh
di gemerlap hotel
tidak bersamamu
seteguk terakhir
baru kusadari
air mata kopi
tumpah ke saku
kemeja putih
hadiah darimu
saat panen kopi
*) Semarang 20 Juli 2013

Saya melihat ke sekeliling. Kantor Walikota yang terbuat dari kayu Ulin di seberang. Ada 2 bus diparkir. Katanya akan ada manasik haji di Taman Alun Kapuas, persis di sebelah hotel. Juga ada penyapu jalanan dengan rompi oranye, bermasker, menatap saya lama.
Pilihan jatuh ke roti bakar. Saya pesan dua. Ada sekitar 8 anak sedang jogging. Saya tawarkan sarapan roti bakar. Kami gembira sarapan bersama. Luar biasanya pagi ini, tukang roti bakar bernama Darsono asal Cilacap followers saya di Facebook. Dia bisa saya ajak ngomong Sunda.

“Saya sudah 23 tahun jualan roti bakar di Pontianak. Anak saya 4. Nomor 1 sudah kuliah. Sebetulnya tidak boleh jualan di sini. Nyuri-nyuri. Kalau diusir satpol PP, ya pergi,” kisahnya.
Saya lihat penyapu jalanan mendekati saya. Sekalian saya ajak sarapan. Dia mengangguk.
“Mas Gol A Gong, ya?” katanya. “Saya ngikutin Mas ketika Mas menggantikan Najwa Shihab jadi Duta Baca Indonesia. Saya tahu Mas ada di Pontianak dari medsos.”

Penyapu jalanan itu namanya Devi. Ibunya fans sinetron. Makanya namanya”Devi”. Dia menikah dengan perempuan Pontianak. Masih tenaga honorer
Pagi yang indah. Kekuatan medsos terbukti di sini. Tentu saya mengampanyekan membaca dan menulis kepada mereka. Anak-anak tadi saling follow. (*)



