Setelah sepakat, perencanaan pun dibuat sedemikian rupa. Kami memilih alat transportasi kereta api untuk menghindari kemacetan yang berkepanjangan.

Berempat berburu tiket kereta di stasiun walau ada pemesanan online untuk mempercepat layanan, namun cara manual punya daya tarik sendiri. Selain bisa bertatap muka dengan petugas tiket, Lalu lalang orang yang silih berganti di stasiun membuat mata kami nyaman. Istilah orang bilang cuci mata lumayanlah walau cuma sekilas pandang. Efek rutinitas yang menyita waktu dan konsentrasi membuat kami sangat menghargai masa rehat.
Pun saat pemberangkatan tiba, kami menempati tempat duduk bersebelahan request saat pemesanan tiket. Jadwal keberangkatan kami pagi hari, sengaja kami pilih agar sampai di tempat tujuan tidak begitu terik. Jarak tempuh Cirebon – Wonosari 3 Jam 54 menit.

Di sepanjang jalan kami bersenda gurau mencuri perhatian penumpang lain. Tak disadari tawa kami bergaung mendominasi suasana kereta yang sesak dengan penumpang lain. Sesekali aku melihat raut muka mereka tersenyum geli melihat tingkah polah kami yang cenderung kekanak-kanakan. Terlihat ibu yang duduk di pojok menggeleng-gelengkan kepalanya, aku hanya mengangguk tersipu malu. Reflek tanganku menempel di bibir sebagai isyarat untuk mengecilkan volume. “Husssss, berisik,” kataku.

Akhirnya mereka pun menyadarinya. Hilir mudik petugas kereta yang membagikan pesanan makanan atau minuman penumpang, yang mereka pesan. Dari sudut jendela kaca terlihat sawah membentang, padi menguning yang siap panen. Terlintas tubuh pak tani yang sibuk bercocok tanam menggarap sawah. Rupanya kami pun melewati terowongan ketika tiba-tiba di kanan kiri jendela kereta berubah jadi gelap gulita.

Dari stasiun ke stasiun, tak terasa kereta pun tiba di tempat tujuan. Kami berhenti di stasiun Wonosari Gunung kidul. Sesak jejal kerumunan pengguna kereta memadati stasiun. Ada yang keluar ada pula yang masuk. Yang menunggu kedatangan kereta duduk rapi di tempat duduk yang telah disediakan. Aktivitas tersebut lazim menjadi pemandangan di stasiun pada umumnya.

Winda mengajak ke toilet untuk membersihkan badan agar tidak terkesan kumal. Ternyata di toilet pun penuh sesak menunggu antrean.
Setelah merasa fresh kami bergegas meninggalkan tempat itu memanggil taxy online dengan bantuan smartphone. Selang beberapa menit taxy menghampiri dan membawa Kami ke tempat tujuan. Sedikit menghilangkan penat, aku sandarkan punggungku ke jok mobil yang lumayan empuk. Pun dengan temanku yang lain.
Kulirik Santi tengah memainkan jemarinya menghubungi saudaranya yang mukim di Gunung Kidul. Kutangkap dari percakapannya mereka kaget atas kedatangan kami yang tiba-tiba, karena memang Santi belum memberikan kabar akan berkunjung ke rumah mereka.
“Surprise,” celoteh Santi mengakhiri pembicaraan.

Waktu berlalu begitu cepat, kami pun sampai di tempat yang telah direncanakan. Cipika-cipiki layaknya temu kangen lumrah dilakukan. Tak lupa Kami pun menyerahkan bekal yang sengaja kami bawa sebagai oleh-oleh.
Saat itu waktu menunjukan pukul tiga sore, kulirik handphone yang ada di genggaman. Tak sengaja kulihat ada pesan di grup. Ternyata besok pukul 10 pagi ada undangan workshop yang wajib diikuti karena dihadiri oleh pejabat publik. Mendengar itu, ketiga temanku melompat kaget.
“Waduh kenapa dadakan seperti ini, sih?” lirih terdengar suara Ratna.
“Bagaimana dengan piknik kita?” celoteh Sinta menyambung pembicaraan.

“Yah, mau gimana lagi? Masak kita mangkir perintah atasan? Mau di skorsing?” gumamku. Walau belum kesampaian namun setidaknya pernah terencana, belaku dalam hati. “Ya sudahlah, mau gimana lagi?” gumamku.
Yang lain tak menyahut, hanya diam, berkecamuk dengan perasaan masing-masing.
Tanpa berpikir panjang, akhirnya detik itu juga kami hengkang dari tempat itu. Waktu menunjukan pukul 4 sore, kami langsung menuju stasiun untuk memesan tiket kepulangan. Walaupun berat hati namun dijalani dengan ikhlas, atas dasar loyalitas terhadap lembaga

Di dalam kereta hanya diam tertunduk lesu. Tak seceria saat awal berangkat. Hanya detak jantung berirama sendu mengiringi kegelisahan dan rasa lelah. Semua hilang berlalu pergi. Tersirat bayangan desir ombak pantai Indrayanti yang seakan menari-nari di pelupuk mata. Sejuknya air terjun Sri Gethuk yang berkelebat melintasi alam imajinasi. Buih, pasir Pantai Sadranan yang bergelayut memanjakan kaki tanpa alas. Menyentuh dinginnya air Pantai Pok Tunggal ketika duduk di pinggiran pantai. Berselancar di gua Pindul yang termasyur keindahan gua bawah tanahnya. Melepaskan pandangan menikmati kokohnya batu karang nan terjal di Pantai Gesing.
Semua hilang tak berkesan bagai hiasan mimpi. Sirna tanpa jejak tergilas roda angan yang entah kapan menjadi nyata. Hingga terkantuk tidur akibat lelah menempuh perjalanan jauh. Sayup-sayup terdengar operator menyampaikan informasi. Membangunkan mimpi yang belum usai.


