Tujuh Literasi Pemberdayaan Masyarakat #1: Literasi Baca, Apa Itu?

Kemdikbudristek RI meluncurkan Gerakan Literasi Nasional” pada 2015 dengan mengusung “Enam Literasi Dasar Anak Usia Dini” dimana “Literasi Baca” dan “Tulis” disatukan. Versi saya untuk pemberdayaan masyarakat, literasi baca dan tulis dipisahkan, karena literasi tulis adalah puncak literasi. Itu adalah akselerasi atau pencapaian prestasi. Di tulisan ini saya akan jelaskan satu-persatu. Kali ini yang pertama adalah literasi baca. Jangan hanya diingat, tapi harus dipahami sebagai upaya perbaikan diri.

Saya akan jelaskan yang pertama di “Tujuh Literasi Pemberdayaan Masyarakat”, yaitu literasi baca. Tentu kita pernah membaca buku, koran, dan majalah. Bisa juga membaca teks yang digital. Tidak apa. Konvensional (cetak) dan digital tidak berbeda. Yang penting buku yang kita baca adalah buku yang akan membawa dampak positif. Dalam rangkaian Tujuh Literasi Pemberdayaan Masyarakat (saya sinkat jadi 7LPM) ini, buku yang dibaca bukan buku biasa atau sekadar hiburan, tapi buku yang bisa memberdayakan si pembaca. Library impact!

Perpusnas RI merevitalisasi perpustakaannya di seluruh Indonesia dengan mengusung visi “Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial”. Perpustakana tidak lagi sebagai “gudang buku” tapi “rumah peradaban baru”. Jika kita membaca buku life skill, misalnya “Bagaimana Membuat Brownies”, maka si pemustaka ketika selesai membaca buku itu jadi memiliki keinginan kuat untuk membuat brownies. Si pembaca ingin mengubah nasibnya dengan membuat brownies. Hanya saja dia tidak punya modal.

Saya akan memisalkan tentang seorang pemustaka (katakanlah pelajar sma) yang sedang terhimpit masalah ekonomi. Ayah dan ibunya hanyalah buruh kasar. Si pemustaka ingin meneruskan kuliah tapi tidak ada biaya. Dia rajin ke perpustakaan tapi untuk persoalan akademis. Dia selalu juara kelas alias bintang pelajar. Tapi secara ekonomi itu tidak berdampak. Dia ingin setelah membaca sebuah buku membawanya ke pencerahan, bahwa buku bisa berdampak secara ekonomi.

Rupanya kegelihasan si pemustaka direspon positif oleh pustakawan di Dinas Perpustakaan kotanya. Terjadilah dialog seperti di bawah ini.

“Kenapa? Apakah buku-buku ini tidak membuatmu bahagia?” tanya Pustakawan

“Tunjukkanlah kepada saya satu buku yang bisa mengeluarkan saya dari kemelut ekonomi ini. Saya ingin kuliah. Tapi tidak ada biaya.”

Si Pustakawan kemudian menyodorkan sebuah buku “Bagaimana Caranya Membuat Brownies”. “Bacalah buku ini. Seminggu lagi kamu datang kepadaku dan kita bicarakan tentang buku ini.

Si Pemustaka menatap buku “how to” itu. Selama ini dia hanya membaca buku-buku sejarah, filsafat, sastra, dan buku-buku yang menunjang nilai akademisnya di sekolah. Dia tidak pernah berpikir, bahwa buku-buku “how to” enak dibaca dan memberikan peluang untuk keluar dari kemelut ekonomi ini.

Di berpikir lagi, bagaimana caranya bisa membuat brownies jika tidak memiliki modal? Nah, ini dia. Kita memasuki 7 Literasi Dasar yang kedua, yaitu “Literasi Keuangan.” Bersambung ke Tujuh Literasi Dasar 2: Literasi Keuangan, Apa Itu?

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==