Ia mengaku, ia tak mau menitipkan anak-anaknya agar dirinya bisa berkarier di dunia pendidikan. “Saya kurang percaya kalau anak-anak tidak diurus oleh saya,” jawab ibu dari Zahira Kania Ardian (5 tahun) dan Nuh Aryasatya Ardian (2 tahun) itu.

Atas pilihannya itu, ia sering mendapatkan komentar miring dari orang-orang sekitar. “Banyak yang menyayangkan gelar kesarjanaan saya, tapi bagi saya, mendidik dan mengabdi itu tak harus selalu di sekolah,” ungkap wanita yang lulus kuliah pada 2015 itu.
Ia menilai, orang-orang yang seperti itu belum paham esensi pendidikan. “Tujuan utama pendidikan dan ilmu itu bukan semata-mata buat mencari uang, melainkan untuk pengabdian dan kebermanfaatan bersama,” ucap wanita yang pernah mengajar di PAUD itu.

Ia memilih mendidik anak-anaknya secara langsung dan mengabdi lewat mengajar mengaji anak-anak kampung di rumahnya.
Pernah beberapa tahun lalu saat mengandung Nuh, ia mendapatkan kesempatan untuk mengajar di sebuah SD swasta di Cilegon. Saat di sekolah ia terus kepikiran pada Eza–sapaan untuk Zahira.

“Efeknya di sekolah saya jadi kurang fokus. Pikiran terbagi antara tugas mengajar di sekolah dengan anak di rumah,” ujar warga Kubang Gede, Mangkunegara, Bojonegara, Serang, Banten, itu.
Untuk saat ini ia ingin fokus membersamai anak-anaknya. “Kalau anak yang paling kecil sudah TK, mungkin saya akan kembali mengajar di sekolah,” tuturnya. *



