Wajah Banten di Mata Perupa

Sebagai orang yang awam dalam seni rupa, saya sangat menikmati beberapa karya yang dipamerkan yang menurut saya cukup kuat menampilkan wajah Banten hari ini. Sekadar menyebutkan beberapa karya bukan berdasarkan tingkatan kualitas karya karena sekali lagi saya hanya orang awam yang kebetulan menikmati, misalnya lukisan berjudul “Jati Diri” karya Arie yang melukiskan sebatang ketela yang pangkalnya masih berbentuk ketela namun ujungnya sudah menjadi plastik kemasan kripik. Hal ini menyadarkan saya betapa barangkali anak-anak kecil atau para remaja kita dewasa ini tak sedikit yang hanya tahu kripik dalam kemasan tanpa pernah berjumpa dengan ketelanya secara langsung.

Mengkritisi politik ada “Hehehe” desain grafis hasil kreativitas Arif Rahman “Firaun” yang menampilkan jalan raya menuju menara Banten yang lengang tanpa kehadiran orang-orang hanya menampilkan beberapa benda simbolik yang cukup satir menyindir situasi Banten hari ini, seperti mainan anak-anak berupa sepatu, bebek kuning, dan kursi. Mungkin maksudnya para pemimpin Banten hari ini hanya diisi orang-orang yang sibuk “bermain-main” dan hanya sibuk berebut kursi.

Soal benturan identitas ada lukisan karya Ali Bone berjudul “Adu Kuat” yang menampilkan Superman yang tengah beradu panco dengan Gatot Kaca berlatar tokoh superhero Indonesia versus superhero dari luar, seakan tengah mengingatkan kita yang kadang lupa memperkenalkan tokoh-tokoh superhero lokal dan lebih bangga mempopulerkan tokoh-tokoh superhero dari luar sehingga anak-anak kita kehilangan jejak sejarah nenek moyangnya.

Mengenai koreksi sistem pendidikan kita bisa melongok “Ada yang Salah” karya Gebar Sasmita yang menampilkan seorang anak esde yang tengah menggambar dua gunung yang mengapit satu matahari dengan gumpalan awan di atasnya—yang entah guru siapa yang memulainya, yang jelas begitulah saat kita esde jika guru mengajarkan cara menggambar penggunungan.

Di Rumah Dunia ada Wisata Gambar. Gol A Gong – pendiri Rumah Dunia yang sekarang jadi Duta Baca Indonesia, melarang keras anak-anak menggambar 2 gunung dan 1 matahari bersina di tengah-tengahnya. “Tidak boleh diseragamkan. Anak-anak harus dibebaskan! Bebas menggambar apa saja,” tegas Gong, yang sedang menyiapkan Safari Literasi Sumatra 2023.

Juga ada angka-angka penjumlahan pengurangan yang salah jawabannya. Pancasila yang dipelesetkan. Seakan Gebar tengah mengkritisi habis-habisan praktik dunia pendidikan yang tidak sungguh-sungguh membuka kran kreativitas anak-anak didik kita sehingga mengalir deras malah justru menyempitkan dan mematikannya. Hal ini mengingatkan saya pada quote tokoh pendidikan barat yang saya lupa namanya yang menyebutkan kurang lebih “Pendidikan bukan memenuhi keranjang kosong, melainkan menyalakan percik api kreativitas.”

Untuk para perempuan ada karya Imelda Amelia sari “Silap Gemilap” yang patut jadi bahan renungan. Menampilkan perempuan sedang duduk di sepatu hak tinggi, membaca Koran, dengan simbol-simbol glamour dunia perempuan. Ini menjadi pertanyaan penting bagi kaum perempuan, apakah hanya untuk itu Tuhan menciptakan kalian menjadi perempuan?

Untuk kita yang mungkin tanpa sadar terkadang menghalalkan segala cara demi mengumpulkan harta sebaiknya merenungkan torehan kuas Jamaludin alias Ocim berjudul “ngarupakeun” gambar bunglon berlidah dasi tengah menjilat uang dengan warnawarni tubuhnya mengikuti lingkungan yang dihinggapinya. Ini seakan membeberkan sikap kita hari ini yang kian permisif terseret arus lingkungan “kotor” yang hanya jadi budak uang dan gila kekuasaan.

Sementara Reo Zaeni menunjukkan kekhawatirnya terhadap keperawanan lingkungan Baduy yang tengah digempur atau dirangsek budaya dan teknologi orang-orang yang berkunjung ke Baduy melalui lukisan berjudul “tatap” yang melukiskan seorang bocah Baduy yang tengah menatap gedung-gedung tinggi dan pesawat terbang dari jembatan rawayan.

Dari hasil bidikan kamera ada “kontra(s)diksi” karya fotografi Tb. Achmad Maulana yang cukup kuat menyuguhkan hal yang kontradiktif, menampilkan kerumunan masyakat Baduy yang sedang berjalan disatu sisi dengan kemacetan kendaraan disisi lain. Yang satu memegang teguh tradisi, yang satu lagi turut menebarkan polusi.

Terkait dunia pariwisata Banten yang begitu kaya dan beragam, ada kritik tajam dari A. Inayat (yayat G) berjudul “Badak Kaya, Kaye Badak”. kawasan Ujung Kulon yang dengar-dengar tengah diajukan sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) semoga saja tidak jatuh ke hal-hal yang bersifat eksploitatif yang hanya menguntungkan sebagian pihak namun menyengsarakan pihak lain.

Demikian potret wajah Banten hari ini dari beberapa karya seni rupa yang berhasil saya nikmati dan renungkan tanpa bermaksud mengesampingkan masih banyak karya lain dengan berbagai jenis pola ungkapnya masing-masing. Semoga saja Museum Negeri Banten terus menjadi wadah kreativitas para seniman Banten, dan halaman museum yang begitu luas bisa diatur atau didesain sedemikian rupa sehingga menjadi ruang publik yang aman dan nyaman untuk keluarga dan anak-anak, agar anak-anak jangan sampai hanya mengenal mall sebagai tempat bermain, tetapi akrab dengan Museum atau Taman Budaya sebagai rumah bagi pembangunan peradaban. Wallahu a’lam. *

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==