Oleh Muhammad Subhan
NULIS, terbit, lalu menerima honor, enak sekali. Rasa terbayar peluh. Kalau honornya cukup, bisa mengajak kawan ngopi, bahkan makan siang, plus rokok.
Pertama kali nulis dan menerima honor, seingat saya, sewaktu SMA, di Aceh. Saya tulis sebuah esai panjang, lalu kirim ke koran harian Serambi Indonesia—anak grup media Kompas. Siapa sangka, tulisan itu dimuat. Tidak hanya dimuat, ada honornya. Jumlahnya lumayan untuk zaman itu.

Halaman: 1 2

