Banyak Honor di Golagongkreatif.com

Tentu, saya gembira. Ketika guru dan warga sekolah tahu, saya sudah seperti artis. Apalagi diumumkan pakai pengeras suara di saat upacara bendera.

Asyik menjadi penulis.

Era tahun 1990-an hingga 2000-an awal adalah era kejayaan surat kabar. Koran-koran tumbuh subur. Kantor koran selalu ramai. Honor bagi penulis lepas juga cukup tersedia. Kalau kantor medianya dekat, honor bisa dijemput. Kalau jauh, bisa dikirim via wesel pos atau diwakilkan pengambilannya kepada kawan yang juga penulis dan dekat domisilinya dengan kantor itu.

Namun, mulai tahun 2010 ke atas, napas koran mulai megap. Media sosial kian marak. Media-media online bertumbuhan. Sebagian koran memilih gulung tikar, beralih ke media online. Sementara, orang semakin jarang membaca koran. Lapak-lapak koran pun satu per satu tutup. Hilang.

Dulu, bagi penulis, tempat paling asyik disinggahi adalah lapak koran. Khususnya di hari Sabtu dan Minggu. Sebab, di hari itu, koran memuat halaman Budaya, di dalamnya ada puisi, cerpen, esai, dan resensi buku.

Itulah halaman yang selalu diburu dan ditunggu-tunggu penulis, baik penulis senior maupun pemula.

Kalau sudah bertemu koran di hari itu, rasa puasnya tak terkira. Makan bisa lupa. Apalagi kalau ada tulisan karya sendiri nongol di sana, sudahlah, berulang-ulang dibaca. Tulisan orang lain lewat. Pokoknya, koran paling mantap adalah koran yang isinya memuat tulisan awak!

Zaman asyik masyuk itu tak berlangsung lama. Kini, koran nyaris tinggal kenangan. Media-media online sebagai alternatif mencoba menghadirkan warna baru, selain media sosial yang memberi ruang sebebas-bebasnya untuk kreativitas penulis.

Sayangnya, tidak banyak media online yang memberikan honor kepada penulis lepas. Kalaupun ada, hanya beberapa. Salah satunya https://golagongkreatif.com/ yang diasuh Duta Baca Indonesia, Gol A Gong.

Dua bulan terakhir, saya mengikuti laman website https://golagongkreatif.com/ ini. Di sana menayangkan berbagai tulisan, khususnya konten spesifik “literasi”.

Tentu, karena Gol A Gong pegiat literasi yang juga pendiri Rumah Dunia, sebuah komunitas literasi di Banten.

Saya sudah mampir ke Rumah Dunia. Kalau tidak salah sekitar tiga kali. Pernah menginap juga semalam dan bersua teman-teman pengurus Rumah Dunia lainnya yang merupakan kader-kader pegiat literasi asuhan Gol A Gong. Semangat mereka luar biasa. Gol A Gong membangun rumah itu dengan “kata-kata”, demikian katanya.

Kembali ke laman https://golagongkreatif.com/ tadi, memang banyak honor di media online ini. Saya hitung ada 4 kategori. Dimulai hari Jum’at secara bergantian Layar Bioskop dan Rak Buku honornya Rp. 100 ribu. Esoknya ada Cerpen Sabtu Rp. 200 ribu. Terakhir Puisi Minggu awalnya sebesar Rp150 ribu, tapi mulai Maret 2024 jadi Rp. 200 ribu. Lumayan, untuk sekelas media online.

Sudah pasti, semua naskah yang masuk, sama halnya media lain, melalui proses kurasi yang ketat. Kualitas karya menjadi taruhannya.

Menghargai karya penulis itu, Gol A Gong memperjuangkan honor untuk tulisan yang terbit, khususnya puisi dan cerpen. Tentu, ia membangun jaringan relasi agar ada pihak yang mau berdonasi untuk menguatkan program di https://golagongkreatif.com/; memberikan honor kepada penulis.

Elemen kunci dari suksesnya sebuah media, adanya kehadiran penulis di luar personal redaksi yang mengelola media itu. Seringkali penulis tidak mendapat penghargaan yang sepadan dengan kontribusi mereka. Oleh karena itu, penting bagi media untuk memberikan honorarium sebagai bentuk menghargai karya kreatif sehingga di masa mendatang mampu mendorong lahirnya naskah yang lebih berkualitas.

Demikianlah, penulis adalah profesi yang yang membutuhkan waktu, usaha, dan keterampilan. Memberikan honor yang layak kepada penulis membantu menjaga keseimbangan ekonomi dalam industri media massa, dengan memastikan bahwa para penulis dapat hidup layak dari pekerjaan mereka tanpa harus bergantung pada pekerjaan sampingan atau kompromi lainnya.

Tapi, seberapa banyak penulis Indonesia yang benar-benar sejahtera dari pekerjaannya sebagai penulis?

Pertanyaan ini dapat didiskusikan bahkan dipolemikkan. Tak sedikit penulis-penulis di masa tuanya hidup prihatin dan bermasalah secara finansial.

Penulis-penulis yang sedikit mapan cenderung tidak menjadikan menulis sebagai satu-satunya profesi, melainkan ada pekerjaan tetap atau pekerjaan sampingan yang menguatkan profesi mereka sebagai penulis.

Misal, ada penulis yang juga jurnalis, pemilik media, mengelola penerbitan buku, menjadi guru, dosen, maupun pekerjaan sampingan lain yang lebih menggiurkan hitung-hitungan finansialnya jika dibandingkan sekadar menulis.

Namun, menulis tetap menjadi pilihan, karena bukan semata pekerjaan, tetapi juga jalan pengabdian dan kebahagiaan ketika seorang penulis dapat membagikan karyanya ke publik lalu banyak orang menikmatinya.

Saya memberikan apresiasi kepada Gol A Gong melalui https://golagongkreatif.com/ yang telah menyediakan honor untuk tulisan-tulisan terpilih di laman website yang ia kelola dan di masa mendatang jumlah honor tersebut dapat terus ditingkatkan.

Memberikan honor yang layak kepada penulis, media tidak hanya mengakui nilai karya mereka, tetapi juga membangun fondasi untuk lingkungan kerja yang adil, inklusif, dan berkelanjutan.

Hal ini tidak hanya menguntungkan penulis secara individual, tetapi juga membawa manfaat jangka panjang bagi industri media massa secara keseluruhan.

Tahniah, Duta Baca Indonesia, Gol A Gong, dan rekan-rekan tim redaksi https://golagongkreatif.com/. Teruslah menjadi “rumah bagi penulis”. Tabik. (*)

*) Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis, berdomisili di Kota Padang Panjang, Sumatra Barat.

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==