Sebuah pepatah klasik yang selalu membuat saya terpakau dan harus membenam diri dalam kebiasaan membaca sebelum menulis puisi, berbunyi: berguru dahulu sebelum bergurau, artinya belajar dahulu sebelum bersenang-senang.

Saya terpakau sebab pepetah tersebut memiliki magis yang meneguhkan pengabadian saya saat ini sebagai guru, sebagai orang yang pekerjaannya, mata pencahariannya, profesinya mengajar. Pepatah tersebut menjadi alarm yang mengingatkan saya bahwa menjadi guru bukan hanya untuk mengajar tapi jalan untuk terus belajar. Menjadi guru bukan untuk menggurui orang tapi berguru pada pengabdian bersama para peserta didik di sekolah.
Tak lepas dari pengaruh pepatah tersebut dalam hubungan dengan profesi saya sebagai guru honorer di pedalaman NTT saat ini, ada puisi yang membuat saya menemukan jalan untuk berefleksi. Di dalam puisi, saya merefleksikan tentang keadaan diri saya dalam tugas pengabdian sebagai guru di hadapan kenyataan zaman ini. Zaman yang penuh taburan intrik yang membakar dada untuk selalu bersuara menggugat. Menggugat eksistensi diri sendiri juga menggugat pola kebijakan yang cenderung tidak seimbang menegakkan keadilan.

Namun, gugatan di dalam puisi saya sebagai guru adalah nada gurauan. Saya adalah guru sedang bergurau dengan puisi. Saya adalah guru yang sedang menghibur diri dengan puisi, bukan untuk tujuan berfoya-foya, tapi untuk membuat segar penglihatan saya tentang dunia. Dunia hari ini yang membutuhkan “mata elang” untuk melihat perkembangannya, agar cinta saya sebagai guru yang sering dilupakan, tak hilang oleh karena ketidakmampuan saya dalam bertahan dan beradaptasi.
Saya menulis puisi sebagai panggilan hidup sebagaimana saya mengabdi sebagai guru honorer. Melalui enam puisi saya bertema guru ini, saya sedang mengajak siapa saja untuk ikut bergurau bersama saya. Untuk itu, siapkan kopi, boleh juga sopi, mari kita bergurau bersama dengan puisi-puisi sederhana saya ini. Selamat menikmati.
Mario D. E. Kali


