Gol A Gong
SIMPANG LIMA
Simpang Lima di senja berkarat
dari retak gedung
mengintai kopi putih luwak
berkejaran dengan masjid
menumpahkan air ke jalanan.
Mengejar perih adzan
berjejer wajahmu terluka
di trotoar berlubang
“Apakah hari ini aku
sudah sempurna
seperti keinginanmu?”
tangis Khotib di mimbar.
Menuju bising selatan
kopi dorong dijajakan
diseduh senyum kopi pabrik
orang-orang ke selokan
melemparkan gelas plastik
“Sudah bukan purnama lagi,”
aku kehilangan jalan pulang
tak serupiah pun kudapat.
*) Semarang, 19 Juli 2013
Puisi “Simpang Lima” yang ditulis oleh Gol A Gong menggambarkan suasana dan kehidupan di Simpang Lima, Semarang, dengan nuansa yang melankolis dan reflektif. Ada nuansa kesedihan yang mendalam, terlihat dari pertanyaan retoris tentang kesempurnaan dan tangis Khotib, yang menunjukkan kerinduan akan sesuatu yang ideal atau sempurna.

Puisi ini menyiratkan kehilangan arah dan ketidakpastian, di mana penulis merasa tidak mendapatkan apa-apa dari perjalanan hidupnya. Juga menangkap kompleksitas kehidupan di Simpang Lima, dengan semua keindahan dan kesedihannya. Melalui kata-kata yang sederhana namun bermakna, Gol A Gong mengajak pembaca untuk merenungkan tentang kehidupan, harapan, dan kehilangan.


