Di Hari Ibu Memaksa Ibu Membaca Buku

Oleh Tias Tatanka

Hari Ibu kali ini kuperingati bersama anak-anak les di Rumah Dunia dan beberapa ibu mereka. Tak ada pesta meriah, hanya ada lomba internal yang hanya boleh diikuti peserta les dan ibunya.

Untuk menarik minat, aku sediakan hadiah sembako untuk para ibu dan snack untuk anak. Semua kusiapkan dengan mendadak dan sesuai kemampuan. Untunglah ada ibuku dan relawati Rumah Dunia yang dapat membantu menyiapkan bingkisan makanan ringan.

Sementara aku menghubungi pemilik warung terdekat untuk memesan sembako yang ada di situ. Kebetulan stok sembako baru datang, jadi aku bisa memesan gula pasir seperempat kilogram, tepung serba guna, dan kecap kemasan. Masing-masing sejumlah 10 buah, mengingat acara ini dadakan dan biasanya jumlah ibu-ibu yang hadir di bawah 20 orang.

Lombanya sederhana dan terkesan biasa. Ya tidak mengapa, targetku memang bukan acara kolosal yang meriah, tapi “memaksa” ibu membacakan anaknya buku. Tujuannya adalah agar ibu-ibu dapat merasakan kenikmatannya, minimal sekali dalam seumur hidup.

Membacakan buku bagi anak mungkin belum menjadi prioritas bagi orang tua kebanyakan. Jangankan untuk kalangan ekonomi menengah ke bawah, yang sudah mapan secara ekonomi pun belum merasa penting melakukannya. Biasanya berdalih anaknya sudah melek literasi sedari lahir.

Tapi yang kumaksud kegiatan membacakan buku di sini bukan hanya sekadar membaca buku di depan anak. Lebih dari itu, setelah membaca buku perlu sekali melihat respon anak. Sudahkah anak mengerti bacaan kita? Dapatkah ia menceritakan ulang isi buku? Bagaimana perasaan anak saat dibacakan buku? Dan masih banyak lagi yang dapat digali dari kegiatan ini.

Banyak orang yang menganggap aktivitas seperti ini seharusnya sudah menjadi habit. Gimana mau jadi habit kalau belum menjadi sesuatu penting dan dibutuhkan? Di negara ini yang melek literasi baru sedikit, biasanya di kalangan menengah ke atas. Sedangkan di kalangan bawah masih berkutat soal ekonomi.

Makanya mereka harus “dipaksa”, alih-alih diajak. Untuk “memaksa” dibutuhkan hadiah, dan kesukaan ibu-ibu adalah hadiah sembako, syukur-syukur uang tunai. Hahaha.

Ini realistis, karena mereka menyisihkan waktu untuk datang, seperti lomba yang kuadakan ini. Ada yang berhenti jualan sebentar untuk ikut lomba (karena dipaksa anaknya), ada yang meliburkan jualannya karena ingin ikut lomba ibu-anak. Oleh karena itu aku menyediakan hadiah sembako, sekadar mengganti waktu ekonomi mereka.

Akhirnya yang terjadi adalah ibu-ibu ini memaksa dan memberanikan diri tampil di depan orang banyak untuk membaca buku bersama anaknya. Hasilnya? Ibu merasakan sekali dalam hidup melakukan kegiatan literasi seperti ini, dan anaknya merasakan kedekatan yang istimewa bersama ibunya. Mungkin ini mustahil dilakukan di rumah, wajar jika raut wajah mereka sangat senang bisa berdekatan dengan ibunya dan dibacakan buku.

Selebihnya, biar waktu yang berbicara. Bisa jadi aku nanti “memaksa” begini lagi. 😄

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==