Filter Emas di Layar Kaca

Namanya Naya. Di Instagram, ia adalah sosok yang memukau. Feed-nya penuh foto-foto di kafe mahal, barang branded, staycation di hotel bintang lima, dan selfie di mobil sport. Followers-nya ribuan, dan komentar-komentarnya selalu dipenuhi pujian:

“Wow, rich girl banget!”
“Ajarin dong cara hidup mewah!”

Tapi di dunia nyata, kenyataan jauh berbeda.

Setiap hari, Naya harus pandai-pandai mengatur uang transferan bulanan dari orang tuanya. Gaji dari kerja lepas sebagai admin media sosial nyaris habis untuk mencicil HP terbaru dan menyewa baju mewah di marketplace khusus konten. Mobil yang ia pakai hanya milik temannya, dan setiap kali unggah foto di tempat mahal, sebenarnya ia cuma beli kopi termurah di sana—lalu duduk lama demi satu jepretan.

Semua demi citra.

Suatu malam, saat membuka notifikasi di kamar kos sempitnya yang cat dindingnya mulai mengelupas, ia melihat story sahabat lamanya, Dira. Isinya sederhana: video Dira sedang membantu ibunya membungkus nasi bungkus di dapur rumah. Caption-nya: “Hidup nggak harus wah, yang penting nyata.”

Naya menatap layar lama sekali. Tak ada barang mewah, tak ada lighting dramatis, tak ada filter. Tapi entah kenapa, rasanya lebih hangat. Lebih jujur. Lebih kaya.

Ponsel Naya diletakkan pelan. Untuk pertama kalinya, ia merasa capek. Capek pura-pura jadi orang yang bukan dirinya.

Tim GoKreaf/ChatGPT

REDAKSI: Di meja makan bukan sekadar tempat orang atau sebuah keluarga makan. Di sana akan banyak ditemukan cerita-cerita sebuah keluarga tentah ayah, ibu, dan anak-anak. Juga cerita-cerita penuh makna agar kita tidak selalu memikirkan perut. Tapi di meja makan kita bisa juga mendengarkan mutiara-mutiara kehidupan agar kita bisa selamat menjalani kehidupan ini.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==