Cerpen Sabtu: Surat dari Alarm Yang Terabaikan Karya Adira Putri Aliffa

Di meja kecil yang berdebu, aku tinggal di dalam ponsel dengan walpaper gedung tinggi itu. Aku
seringkali bangun lebih dulu darimu dan menciptakan bunyi sehingga mengusik semut-semut kecil di
sekitar sisa camilan malam tadi. Namun, dirimu masih terbaring, entah mimpi apa yang membuat
matamu masih tertutup sebegitu rapat atau beban apa yang membuatmu tidak ingin bangun cepat.
Padahal setiap pagi aku bersuara dengan nada-nada indah yang kamu pilih sendiri. Nada-nada yang
seringkali membuatmu tersenyum saat memulai pagi. Namun, sejak tiga pekan terakhir, kamu selalu
mengabaikan bahkan memilih untuk berpaling sebelum aku sempat berbicara lebih dari tiga detik.
Seolah suaraku jadi bagian dari dunia yang sedang kamu hindari.

Aku tidak tahu kapan tepatnya segalanya tidak lagi sama. Dulu dirimu menyambutku dengan tangan
yang cekatan, senyum lebar, dan mata berbinar dengan jiwa yang setengah sadar. Begitu cepat
tubuhmu bangun dan begitu ringan mulutmu mengucapkan hal-hal seperti: “terima kasih Tuhan untuk
hidupku hari ini, aku siap menyambut banyak hal baik yang terjadi.”

Sedihnya tiga pekan ke belakang, dirimu benar-benar berbeda. Entah apa yang sebenarnya ada di
kepalamu, aku mencoba memahami kerumitanmu itu. Meskipun lelahmu tidak tersimpan di galeri dan
tangismu tidak terekam sebagai nada dering notifikasi, tetapi aku bisa merasakannya dari caramu
mengabaikan pagi.

Aku tahu tempat tidur sangat nyaman. Aku tahu, dunia di luar selimut kadang terlalu terlalu
menyakitkan. Namun, aku juga tahu seberapa banyak kerinduanmu pada semangat yang dulu sering
kamu tanam di pagi hari. Sekarang, jujur padaku bahwa kamu hanya takut. Apakah kamu takut jika
dunia akan mengecewakanmu lagi? Bahkan hanya untuk membuka mata dan melihatnya pun kamu
sudah kehabisan energi.

Jika aku bisa berbagi denganmu, pagi ini rasanya sangat sepi. Padahal jarakku hanya tiga jengkal dari
tanganmu, tetapi terasa seperti ribuan kilometer. Jika aku bisa bercerita denganmu, pagi ini rasanya
sangat berbeda. Padahal ada kamu di sana, tetapi terasa bukan dirimu sebenarnya.

Pernah sekali, aku dibiarkan berbunyi lama dan aku kira, mungkin akhirnya kamu kembali
mendengarkanku. Namun, ternyata malah kudengar teriakan di balik selimut tebal itu. Teriakannya
keras sekali, bahkan getaranku pun kalah kerasnya. Teriakannya panjang sekali, bahkan nadaku pun
kalah panjangnya. Lalu, ku dengar susulan isak tangis yang membuatku merasa bersalah karena
bunyiku membawa luka untukmu. Isak tangis itu semakin lama semakin terdengar memilukan. Isak
tangis itu semakin lama semakin menyiksamu, bukan? Sekali lagi aku bertanya: apa yang sebenarnya
kamu rasakan, Nona?

Apakah duniamu belakangan ini sama berantakannya dengan kamar tidurmu? Apakah duniamu
belakangan ini sama berisiknya dengan bunyiku setiap pagi? Apakah duniamu belakangan ini sama
kusutnya dengan tumpukan baju yang tergeletak di depan lemarimu itu? Apakah duniamu belakangan
ini sama jahatnya dengan tokoh kriminal dalam drama yang kamu tonton tahun lalu? Apakah duniamu
belakangan ini sama riuhnya dengan kran air di kamar mandi yang belum kamu matikan semalaman?
Apakah duniamu belakangan ini serumit puzzle yang kamu abaikan satu bulan? Apakah duniamu
belakangan ini lebih berat dari itu semua? Sampai kamu benar-benar tidak ingin menyapanya. Sampai
kamu benar-benar tidak ingin membuka mata.

Jika iya, bolehkah kamu bangun sebentar saja untuk menikmati semangkuk sereal? Jika iya, bolehkah
kamu membuka mata untuk menikmati segelas matcha? Jika iya, bolehkah kamu menelpon seseorang
untuk menjadi teman bicara? Jika iya, bolehkah kamu berjalan keluar rumah dan menyapa dunia yang
indah?

Abaikan sebentar segala beban di pundak yang mungil itu. Lupakan sebentar segala ketakutan di
kepala yang berharga itu. Lepaskan sebentar segala luka di hati yang lembut itu. Biarkan semuanya
terbang bersama burung-burung di luar sana, di balik jendela yang berdebu itu. Biarkan mereka
membawanya sejauh-jauhnya dan menghilang bersama waktu.

Nona, bukankah dirimu terlalu berharga untuk terlalu lama meratapi luka? Nona, bukankah dirimu
terlalu baik hati untuk menerima kejahatan semesta yang mendatangimu berkali-kali? Nona, aku tidak
tahu seberapa sakit yang kamu alami. Namun, izinkan aku menghiburmu dengan nada-nadaku. Lalu,
kamu bangun dan tersenyum mematikanku.

Nona, siapa lagi yang rela mati demi melihat senyummu, selain aku? Siapa lagi yang rela mati demi
melihat matamu tidak lagi sayu? Siapa lagi yang rela mati, demi menyaksikan suara merdumu? Siapa
lagi kalau bukan aku?

Sekali lagi, Nona, aku rela menerima apapun, selagi kamu tidak mengabaikanku terlalu lama. Aku rela
dibenci satu dunia selagi kamu tidak membenciku. Aku rela melakukan apapun selagi aku bisa
membangunkanmu.

Jika aku boleh bersuara selain lewat nada, aku ingin berkata bahwa aku bukanlah alarm semata. Aku
adalah pengingat bahwa setiap aku berbunyi, kamu masih memiliki satu hari lagi, kamu masih memiliki
satu kesempatan untuk merapikan semuanya kembali, kamu masih memiliki waktu untuk membuat
segalanya seindah dulu. Aku akan selalu ada di sini. Meskipun aku tidak memiliki tangan untuk
menyentuh dan memelukmu seperti manusia yang kamu sayangi.

Aku berharap, kamu tidak lagi berpaling dari semua bising. Hingga pada akhirnya, tenang bisa kamu
rasa dan senyum yang sempat hilang itu bisa kembali terlukis seindah-indahnya. Aku berharap, kamu
bisa kembali peduli padaku. Sebab, semakin sering kamu mengabaikan, semakin takut aku bahwa
suatu hari, kamu berhenti menyetelku lagi dan tidak ingin bangun sama sekali. Aku harap ketakutanku
tidak akan pernah terjadi.

oOo

TENTANG PENULIS: Adira Putri Aliffa, mahasiswi sastra yang gemar berenang di lautan kata-kata. Sudah hampir tiga tahun belajar untuk berenang dengan berbagai macam gaya di samudera yang berbeda-beda. Temui dia di LinkedIn, Instagram, Threads, X, Kwikku atau di peramban pencarian untuk melihat gaya saya berenang. Cukup ketik nama saya dan sampai jumpa di sana!

CERPEN SABTU Cukup 1000 – 1500 kata. Teknik menulis baru diperbolehkan, kritik sosial, plot point, absurd, realis, surealis, boleh. SARA dan pornografi dilarang. Redaksi menyediakan honor Rp. 100 ribu. Terbit mingguan setiap hari Sabtu. Sertakan foto diri, bio narasi singkat, nomor rekening bank, gambar atau 3-4 ilustrasi yang mendukung – boleh lukisan karya sendiri. Kirim ke email gongtravelling@gmail.com dengan subjek Cerpen Sabtu. Jika ingin melihat cerpen-cerpen yang sudah tayang, klik banner di bawah ini:

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==