Oleh El Rui
Percaya nggak kalau imajinasi bisa menyelamatkan seseorang?
Saya percaya, bahkan sejak sebelum dipertemukan dengan novel Puri Pictordu. Dalam fase kehidupan yang sudah saya jalani hingga saat ini, bisa dibilang, sebagian besar hidup saya diselamatkan oleh imajinasi lewat membaca, menulis, dan satu hal lain. Satu hal lain yang saya lakukan setiap kali saya merasa aktivitas membaca dan menulis nggak lagi mampu menyelamatkan diri saya.
Satu hal lain yang kadang membuat saya berdebat dengan diri sendiri karena bingung menentukan apakah yang tengah saya hadapi adalah realitas atau bukan. Satu hal lain yang baru saya sadari—beberapa tahun lalu—ternyata sudah saya lakukan sejak kecil.
Jika saat kecil saya melakukannya tanpa sadar, sekarang saya melakukannya dengan penuh kesadaran dan menerima “satu hal lain” ini sebagai metode personal yang saya terapkan untuk bertahan di tengah kegetiran hidup.

Satu hal lain yang sampai saat ini cukup sulit saya jelaskan kepada orang-orang yang nggak mengalaminya, hingga sempat terpikir untuk menggambarkannya lewat fiksi (dalam bentuk novel) yang sampai sekarang masih berupa kerangka cerita di kepala.
Maka, ketika saya dipertemukan dengan novel Puri Pictordu karya George Sand ini lalu menyelaminya, saya dibikin takjub mengetahui George Sand sudah lebih dulu menjelaskan dengan sangat baik apa yang selama ini ingin saya jelaskan lewat fiksi yang masih mandeg sebagai kerangka cerita di kepala tadi.
Dalam Puri Pictordu kamu akan menemukan kisah seorang gadis kecil yang bertemu dengan sosok yang dikenal sebagai perempuan berkerudung penjaga Puri Pictordu yang menuntunnya mencapai kehidupan yang lebih baik. Kisah dalam novel ini memang terkesan seperti dongeng, tapi apa yang diceritakan George Sand dalam Puri Pictordu sangatlah dekat dengan realitas. Terutama, bagi orang-orang seperti saya yang dalam sebagian besar hidupnya “diselamatkan” oleh imajinasi.

Novel yang diterjemahkan langsung dari bahasa Prancis oleh Reinitha Amalia Lasmana ini bukan semata berkisah tentang seorang gadis kecil yang bertemu dengan sosok dan berbagai hal yang sulit diterima realitas, melainkan juga tentang kesepian, rasa tertekan, relasi antara orang tua dengan anak, kecemasan dalam menghadapi masa depan, kerinduan, kegelisahan mendalam akibat dihadapkan pada dua pilihan: antara berkorban untuk orang yang disayangi atau mewujudkan mimpi dan cita-cita. Juga tentang kekuatan memaafkan, menerima keadaan, kesabaran dalam berproses, dan kebaikan, juga kelembutan hati.
Begitu kamu memasuki dunia tokoh utamanya, kamu akan sulit menemukan pintu keluar. Satu-satunya cara untuk bisa keluar adalah dengan membaca novelnya hingga selesai dan bersiaplah menerima akhir cerita yang cukup menohok.
Tiga alasan kenapa Puri Pictordu sangat layak kamu baca

Puri Pictordu bukan jenis novel yang menawarkan plot twist atau pelintiran cerita di akhir. Meski begitu, tetaplah duduk dan menyimak ulasan ini hingga selesai karena saya akan menjabarkan tiga alasan kenapa novel Puri Pictordu sangat layak kamu baca. Lagipula, plot twist bukanlah segalanya. Ada banyak hal yang membuat sebuah cerita menarik untuk dibaca.
Plot twist hanyalah satu di antaranya. Karena itu, jujur, saya kadang ingin meledak tertawa saat mendapati seseorang menilai sebuah cerita itu jelek dan nggak menarik hanya karena ketiadaan unsur plot twist atau pelintiran cerita di dalamnya.
Heeyy, ada lo cerita yang nggak menawarkan plot twist dan ceritanya tetap menarik! Puri Pictordu adalah salah satunya.
Saya tahu kamu nggak punya banyak waktu untuk menyimak sebuah ulasan buku yang cukup panjang, maka buat kamu yang masih bertahan membaca ulasan ini, berikut tiga alasan kenapa menurut saya novel Puri Pictordu tetap menarik untuk dibaca meski ditulis tanpa plot twist atau pelintiran cerita di dalamnya.

Pertama, alur novel ini bergerak proporsional. Nggak bergerak cepat, nggak juga bergerak lambat. George Sand nggak bernafsu menyembunyikan hal-hal mengejutkan dalam ceritanya. Ia menunjukkan bagian-bagian penting dalam ceritanya pada saat yang tepat.
Jadi, nggak membuatmu menunggu atau sebaliknya, merasa dikejar teka-teki dan diberondong berbagai pertanyaan yang bikin kamu ingin cepat-cepat mencapai akhir cerita atau ending hanya untuk mengetahui jawabannya.
Membaca novel ini kesannya seperti sedang menelusuri kehidupan orang biasa pada umumnya, tapi sepanjang membacanya kamu diajak menemukan kesadaran atas banyak hal. Terutama kesadaran atas seberapa besar pengaruh dukungan orang dewasa, khususnya orang tua, terhadap kesuksesan seorang anak dalam mengembangkan bakat terpendamnya.
Kedua, deskripsi yang dibangun George Sand dengan detail dan menarik mampu membangun visualisasi atau gambaran yang jelas di benak pembaca tentang situasi dan kondisi yang terjadi dalam cerita. Misalnya, saat George Sand mendeskripsikan kondisi Puri Pictordu yang sudah nyaris hancur di halaman 31. Seolah teks yang menjelma tayangan sinematik di layar bioskop, saya bisa menatap kondisi Puri Pictordu dengan jelas, lengkap dengan detail terkecilnya yang mengagumkan.
Ketiga, kualitas terjemahannya oke banget. Saya memang nggak bisa membandingkannya dengan novel versi asilnya yang berbahasa Prancis karena saya nggak punya bukunya, dan kalaupun punya, saya juga nggak mengerti bahasa Prancis.
Akan tetapi, saat saya membaca versi terjemahan bahasa Indonesianya ini, terjemahannya nggak terasa kaku sama sekali. Baik dalam narasi dan deskripsinya maupun dalam dialog-dialognya. Susunan kalimatnya juga enak banget buat dibaca. Saya nggak menemukan susunan kalimat yang belibet, yang bikin saya harus mengulang-ulang membaca kalimat tertentu hanya agar saya memahami maksudnya.

Novel Puri Pictordu selesai saya baca pada Januari lalu. Sempat menuliskan ulasan versi singkatnya berupa utas di platform X (saya lebih suka menyebutnya Twitter) dan berjanji kepada diri sendiri akan menuliskan ulasan versi lengkapnya, tapi nggak kunjung saya lakukan.
Baru pada akhir November saya menggarap ulasan lengkapnya. Mencicilnya satu dua paragraf per hari. Pemicunya adalah kondisi mental yang mulai drop. Satu setengah bulan lebih menjadi full caregiver bagi kedua orang tua saya yang sama-sama harus dilarikan ke ICU lengkap dengan berbagai masalah lain yang menyertainya membuat saya nggak memiliki waktu buat diri sendiri, bahkan untuk sekadar membaca buku.
Menghadapi semuanya secara bersamaan pada saat kondisi finansial saya belum stabil rasanya seperti terjebak dalam lubang hitam sendirian. Saat hidup begitu menekan dan rasanya nggak lagi tertahankan itulah saya mengingat kembali Puri Pictordu.

Ada satu halaman spesial yang saya tandai, yang selama ini cukup menguatkan. Saya membuka halaman itu dan membacanya ulang sejenak. Saat itulah saya berpikir, barangkali ini adalah waktu yang tepat untuk mulai menuliskan ulasan lengkapnya.
Puri Pictordu akan menunjukkan kepadamu bahwa imajinasi nggak semestinya dimaknai sebagai sekadar khayalan. Ia adalah organisme lain yang hidup di luar realitas, tapi mampu memberimu kekuatan untuk bertahan, bahkan bertumbuh dan berkembang.

RAK BUKU adalah resensi buku. Upayakan tulisannya membangun suasana lokasi membaca, personal literatur. Boleh juga menulis seperti catatan perjalanan. Panjang tulisan 500 hingga 1000 kata. Honor Rp100 ribu. Sertakan foto diri, bio narasi singkat, identitas buku, nomor WA, rekening bank, foto-foto cover buku, penulisnya sedang membaca bukunya. Kirim ke email golagongkreatif@gmail.com dan gongtravelling@gmail.com dengan subjek: Rak Buku


