Dari Lembaran Buku ke Kursi Kepemimpinan: Inspirasi Sun Tzu yang Mengubah Hidupku

Oleh Abdul Ro’uf

Apa jadinya jika satu buku bisa mengubah caramu melihat hidup?

Saya tahu pertanyaan ini terdengar klise. Tapi izinkan saya bercerita. Siapa tahu, kamu akan menemukan bagian dari dirimu dalam kisah ini.

Nama saya Abd. Ro’uf. Saya hanyalah seorang mahasiswa biasa dari Desa Poter, Kecamatan Tanah Merah, Kabupaten Bangkalan. Namun di balik kesederhanaan itu, saya menyimpan keyakinan bahwa hidup bisa diubah, selama kita punya semangat dan arah.

Awal tahun 2025, saya membuat keputusan sederhana: membaca satu buku sampai selesai. Bukan novel populer atau buku motivasi kekinian. Buku itu berjudul The Power of Sun Tzu, ditulis oleh Kai Tan — sebuah karya yang mengupas ajaran-ajaran strategi dari jenderal legendaris Tiongkok, Sun Tzu.

Awalnya, saya pikir ini hanya buku tentang perang. Tapi sejak membuka halaman pertama, saya sadar bahwa ini bukan cuma soal medan tempur. Ini juga tentang hidup. Tentang bagaimana kamu menyusun langkah. Tentang cara berpikir. Tentang seni menghadapi tantangan.

Salah satu bab yang paling membekas di pikiran saya berjudul “Rencanakan Langkahmu dengan Bijaksana.”
Di sana tertulis kutipan Sun Tzu yang membuat saya terdiam:

“Jenderal yang memenangkan pertempuran adalah dia yang membuat banyak perhitungan di kuilnya sebelum pertempuran dimulai.”

Kalimat itu mengubah cara saya memandang hidup. Kita sering ingin cepat berhasil, tapi jarang mau duduk sebentar, merenung, menyusun rencana. Padahal, keberhasilan sejati lahir dari perhitungan yang matang — bukan dari keberuntungan yang datang sesekali.

Sejak saat itu, saya mulai mengatur ulang hidup. Saya membuat daftar tujuan, memecahnya menjadi langkah-langkah kecil. Saya menata ulang jadwal kuliah, organisasi, bahkan waktu untuk berbincang dengan teman-teman. Saya belajar untuk tidak sekadar sibuk, tapi benar-benar produktif.

Setelah membaca buku tersebut, saya mulai merefleksikan pengalaman saya dalam organisasi kemahasiswaan dan kegiatan belajar. Di sanalah saya banyak belajar bahwa memimpin, berdiskusi, menyelesaikan konflik, dan mendengarkan teman seperjuangan, semuanya memiliki cara dan prinsip. Hal ini sejalan dengan kalimat yang saya pelajari dari Sun Tzu: kenali medan, kenali lawan, dan kenali diri sendiri.

Lalu, datanglah momen yang mengubah arah hidup saya.

Pada minggu ketiga bulan Maret 2025, desa kami merencanakan pemilihan Ketua Karang Taruna. Sejumlah nama mulai disebut-sebut, termasuk saya. Sejujurnya, saya sempat ragu. Saya tidak merasa paling pintar, apalagi paling populer. Tapi saya tahu satu hal: saya sudah mempersiapkan diri.

Saya tidak datang dengan janji manis. Saya datang membawa gagasan. Saya tidak hanya berbicara, tapi juga mendengarkan. Saya berdiskusi dengan para pemuda desa, menampung ide dan harapan mereka. Saya tidak berusaha tampil sempurna — saya hanya ingin hadir dengan kesiapan.

Dan pada tanggal 29 Mei 2025, saya resmi terpilih sebagai Ketua Karang Taruna Desa Poter.

Bagi sebagian orang, mungkin ini hal kecil. Tapi bagi saya, ini adalah hasil dari perjalanan panjang — perjalanan seorang anak desa yang percaya bahwa perubahan bisa dimulai dari satu buku, satu keputusan, dan satu langkah kecil yang dilakukan dengan sungguh-sungguh.

The Power of Sun Tzu bukan satu-satunya alasan saya terpilih. Tapi tanpa buku itu, saya mungkin belum punya cara pandang yang sama. Ia mengajarkan saya bahwa hidup bukan tentang siapa yang paling cepat bergerak, tapi siapa yang paling siap melangkah.

Kini saya memikul tanggung jawab baru. Saya ingin Karang Taruna tidak hanya menjadi wadah kegiatan rutin, tetapi ruang yang membentuk masa depan. Tempat di mana anak-anak muda desa bisa tumbuh, belajar, dan memiliki peran nyata.

Saya juga ingin menularkan satu kebiasaan sederhana tapi berdampak besar: membaca.

Karena saya percaya, satu buku bisa menjadi titik balik hidup seseorang. Saya mengalaminya sendiri. Saya bukan siapa-siapa, tapi buku itu membantu saya menemukan arah. Memberi saya keberanian untuk melangkah.

Kalau kamu sedang mencari titik awal perubahan, mungkin ini saatnya. Ambillah satu buku. Bacalah dengan sungguh-sungguh. Renungkan maknanya. Terapkan sedikit demi sedikit. Perubahan tidak harus besar — tapi harus jujur. Harus datang dari hati.

Dan siapa tahu, seperti saya, kamu juga sedang menuju versi terbaik dari dirimu.

Tentang Penulis:

Abd. Ro’uf, lahir di Bangkalan pada tanggal 03 Maret 2001 dan berdomisili di Desa Poter, Kecamatan Tanah Merah, Kabupaten Bangkalan. Saya pernah menempuh pendidikan di SDN Poter I, kemudian melanjutkan ke SMP Al Hikam, SMK Al Hikam, dan kampus Universitas Trunojoyo Madura. Dalam perjalanan organisasi, saya aktif dan pernah dipercaya menjabat sebagai Ketua OSIS SMK Al-Hikam, Ketua PR IPNU Poter, Ketua Umum FORMAHI, Ketua PAC IPNU Tanah Merah, Ketua Karang Taruna Desa Poter, serta Ketua Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih Desa Poter. Hobi saya adalah berenang, dan motto hidup yang saya pegang adalah “Hidup itu Harus Hidup.”

RAK BUKU  adalah resensi buku. Upayakan tulisannya membangun suasana lokasi membaca, personal literatur. Boleh juga menulis seperti catatan perjalanan. Panjang tulisan 500 hingga 1000 kata. Honor Rp100 ribu. Sertakan foto diri, bio narasi singkat, identitas buku, nomor WA, rekening bank, foto-foto cover buku, penulisnya sedang membaca bukunya. Kirim ke email golagongkreatif@gmail.com dan gongtravelling@gmail.com dengan subjek: Rak Buku

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==