Menakar Rindu pada Ayah Lewat Buku Bila Esok Ayah Tiada

Oleh: Neneng Junita

Siang itu, hawa dingin dari pendingin ruangan di sebuah toko buku terasa kontras dengan riuhnya jalanan di luar. Saya melangkah di antara rak-rak buku, mencium aroma khas kertas baru yang menenangkan. Di sini, waktu seolah melambat. Saya duduk di salah satu sudut yang tenang, diapit jajaran buku-buku agama dan motivasi.

Namun, di tengah ribuan judul itu, mata saya tertuju pada satu buku dengan desain minimalis namun memiliki judul yang seketika membuat dada terasa sesak sekaligus hangat: Bila Esok Ayah Tiada.

Memegang buku ini rasanya seperti memegang sebuah pengingat yang sangat rapuh. Sampulnya yang menampilkan siluet pohon tua di tengah kesunyian seolah menyiratkan sebuah keteduhan yang selama ini kita anggap akan selalu ada, namun sebenarnya bisa hilang kapan saja tanpa peringatan.

Membaca buku ini di tengah keheningan toko buku memberikan ruang bagi saya untuk tenggelam dalam narasi yang sangat personal tentang sosok yang seringkali menjadi pilar paling diam dalam keluarga: Ayah.

Kita semua tahu, dalam banyak budaya, ayah sering digambarkan sebagai sosok yang kuat, tangguh, dan jarang bicara soal perasaan. Namun, lewat lembaran-lembaran buku ini, saya dipaksa untuk melihat sisi lain dari kekuatan itu.

Ada kelelahan yang disembunyikan di balik pundak yang mulai membungkuk, dan ada cinta yang luar biasa besar yang sering kali hanya disampaikan lewat tindakan-tindakan sederhana yang luput dari perhatian kita.

Bagi saya, buku ini bukan sekadar kumpulan tulisan atau prosa, melainkan sebuah refleksi tentang penyesalan yang belum terjadi. Penulisnya dengan sangat jujur membedah lapisan-lapisan emosi yang sering kita pendam sebagai anak. Di era yang serba cepat ini, kita sering kali terlalu sibuk dengan dunia kita sendiri, mengejar ambisi, memoles profil di media sosial, hingga lupa bahwa sosok yang dulu menggendong kita kini mulai berjalan melambat.

Membaca bait demi bait di dalamnya memaksa saya untuk kembali bertanya pada diri sendiri dengan jujur: “Kapan terakhir kali aku benar-benar menatap matanya tanpa terganggu layar ponsel dan mengucap terima kasih dengan tulus?”

Suasana toko buku yang tenang ini mendukung saya untuk merenung lebih dalam. Di sini, di antara ribuan kata yang tertulis, saya menemukan bahwa mencintai ayah sering kali adalah tentang memahami bahasa diamnya. Lewat buku ini, saya diingatkan bahwa ayah tidak selamanya menjadi pahlawan tanpa cela. Ia adalah manusia biasa yang juga punya rasa takut, punya lelah, namun selalu berusaha tampil sempurna di depan anak-anaknya.

Tulisan-tulisan di dalamnya terasa seperti cermin yang memantulkan kembali wajah egois kita sebagai anak yang sering menuntut banyak hal tanpa memikirkan apa yang telah beliau korbankan.

Membaca Bila Esok Ayah Tiada adalah sebuah perjalanan literasi yang melunakkan hati. Buku ini bukan ingin menakut-nakuti kita tentang kematian, melainkan mengajarkan kita untuk menghargai kehadiran sebelum ia menjadi kenangan yang membeku dalam bingkai foto.

Bagi saya yang sedang duduk termenung di sudut toko buku ini, buku ini menjadi alarm yang sangat keras agar segera pulang, atau setidaknya, mengirimkan sebuah pesan singkat hanya untuk sekadar bertanya, “Ayah sudah makan?” atau “Ayah sedang apa?.” Hal-hal kecil yang mungkin bagi kita sepele, namun bagi seorang ayah adalah segalanya.

Ketika saya akhirnya bangkit dari duduk dan melangkah menuju kasir dengan buku ini di tangan, ada beban yang terasa terangkat namun ada pula tanggung jawab moral baru yang menetap di pundak.

Menghargai keberadaan sosok orang tua adalah bentuk literasi hidup yang paling mendasar dan utama sebelum kita belajar tentang hal-hal besar lainnya. Buku ini telah selesai saya baca di sudut ini, namun narasinya akan terus bergema dan membekas setiap kali saya kembali ke rumah dan melihat sosok lelaki tua yang panggilannya selalu saya rindukan.

Melalui buku ini, saya belajar bahwa mencintai adalah tentang waktu, dan waktu adalah sesuatu yang tidak bisa kita putar kembali.

Identitas Buku

Judul: Bila Esok Ayah Tiada

Penulis: Muhamad Yasir, LC

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit: 2017

Tebal: 211 Halaman

Tentang Penulis

Nama Saya Neneng Junita. Saya adalah seorang guru di salah satu MTS Pekanbaru Saya seorang penikmat literasi yang gemar mengeksplorasi makna di balik lembaran buku. Bagi saya, setiap buku adalah jendela untuk mengenal diri lebih dalam. Saat ini saya aktif menulis catatan reflektif tentang kehidupan dan juga  literasi.

RAK BUKU  adalah resensi buku tayang 2 minggu sekali. Upayakan tulisannya membangun suasana lokasi membaca, personal literatur. Boleh juga menulis seperti catatan perjalanan. Panjang tulisan 500 hingga 1000 kata. Honor Rp100 ribu. Sertakan foto diri, bio narasi singkat, identitas buku, nomor WA, rekening bank, foto-foto cover buku, penulisnya sedang membaca bukunya. Kirim ke email golagongkreatif@gmail.com dan gongtravelling@gmail.com dengan subjek: Rak Buku

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==