Adam Choli Tegar Nugraha
Bagi sebagian orang, termasuk saya, mendengarkan puisi memberikan kesenangan tersendiri. Pada Sabtu, 2 Mei 2026, saya berkesempatan mengikuti acara bedah buku karya Mas Toto yang berjudul Timur dari Masa Lalu. Motivasi utama saya hadir adalah untuk melihat langsung bagaimana proses sebuah buku puisi dibedah secara mendalam.
Saat sedang membantu menyiapkan acara, saya sempat terkejut melihat kehadiran Bang Wahyu Arya yang sudah tiba dua jam lebih awal. Sebagai seorang jurnalis sekaligus sastrawan aktif asal Banten, kehadiran beliau memicu rasa penasaran saya, bagaimanakah beliau membedah karya ini?

Begitu acara dimulai, saya sempat dibuat bingung oleh pendekatan yang diambil Bang Wahyu Arya. Tutur katanya sarat dengan istilah filosofis yang sangat dalam. Alih-alih hanya membahas isi buku, audiens seolah dipaksa untuk mencerna pemikirannya lebih keras.
Namun, di balik kerumitan kata-katanya, ada satu poin diskusi yang sangat memikat perhatian saya: bahwa buku Timur dari Masa Lalu merupakan wujud keresahan sang penulis dalam mencari eksistensinya.
Hal ini mengingatkan saya pada konsep filsafat yang pernah saya dengar sebelumnya, yaitu “eksistensi mendahului esensi.” Wahyu Arya menekankan bahwa Mas Toto tengah mengalami keresahan mendalam yang kemudian dituangkan secara reflektif ke dalam puisi-puisinya. Kesan reflektif tersebut terasa begitu kuat dan nyata dalam setiap bait yang dibahas.
Setelah menyimak pemaparan Wahyu Arya yang cukup “memeras otak” tersebut, saya sampai pada satu kesimpulan: kita memang perlu merasa resah mengenai eksistensi kita sebagai manusia. Jika sosok seperti Mas Toto yang sudah kaya akan pengalaman saja masih bergulat dengan keresahan eksistensial dalam karyanya, apalagi kita? Pencarian makna atas keberadaan kita di dunia ini tampaknya memang sebuah perjalanan yang tidak akan pernah usai.


