Rumah Dunia Luncurkan 27 Buku di Perayaan World Book Day 2026

Oleh: Naufal Nabilludin

Perayaan World Book Day 2026 yang digelar Rumah Dunia berlangsung meriah pada Minggu (26/4/2026) di Teater Terbuka Rumah Dunia, Banten. Dalam momentum ini, Rumah Dunia meluncurkan 27 buku karya penulis Banten, yang dirangkai dengan berbagai kegiatan seperti Kelas Menulis ke-43, orasi literasi, penampilan seni warga belajar, hingga sesi berbagi cerita traveling lintas negara.

Kegiatan ini merupakan agenda rutin tahunan Rumah Dunia dalam merayakan Hari Buku Sedunia, sekaligus menjadi ruang apresiasi bagi karya-karya terbaru penulis lokal. Selain itu, perayaan ini juga menjadi upaya konsisten komunitas dalam menjaga semangat literasi di tengah masyarakat.

Presiden Rumah Dunia, Rudi Rustiadi, menyampaikan bahwa peluncuran buku dalam perayaan tahun ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan dalam menjaga semangat literasi di Banten. Ia menegaskan, Rumah Dunia terus mendorong lahirnya karya-karya baru melalui berbagai program pembinaan dan kolaborasi.

“Di tahun-tahun sebelumnya, buku yang diluncurkan bisa sampai 200 buku, kemudian seiring waktu berjalan berkurang,” ujar Rudi Rustiadi. 

Ia juga menambahkan bahwa Rumah Dunia pernah menjalin kolaborasi dengan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia melalui Perpusnas Press di perayaan World Book Day sebelumnya.

Melalui berbagai kerja sama dan program yang terus dikembangkan, Rumah Dunia berkomitmen untuk menjaga ekosistem literasi agar tetap hidup dan berkembang, sekaligus membuka ruang bagi penulis-penulis baru untuk tumbuh.

Sementara itu, Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Prof. Dr. E. Aminudin Aziz, M.A., Ph.D dalam orasi literasinya menekankan bahwa membaca tidak hanya berhenti pada aktivitas memahami teks, tetapi merupakan proses yang lebih dalam dan berlapis.

Ia menjelaskan, terdapat tiga tahapan dalam membaca. Pertama, tahap dasar, yakni membaca huruf, kata, hingga kalimat. Kedua, membaca sebagai cara memahami realitas dan lingkungan sekitar. Dan ketiga, yang paling penting, membaca sebagai proses refleksi diri.

“Bukan berapa banyak buku yang kita baca, tetapi berapa banyak buku yang membaca diri kita,” kata Prof. E. Aminudin Aziz.

Menurutnya, buku seharusnya tidak hanya menjadi sumber informasi, tetapi juga menjadi cermin yang mampu membentuk cara berpikir dan perilaku manusia.

Melalui perayaan ini, Rumah Dunia tidak hanya menghadirkan peluncuran buku sebagai seremoni, tetapi juga memperkuat makna literasi sebagai bagian dari perjalanan membangun peradaban, dimulai dari ruang-ruang kecil di masyarakat.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==