Oleh: Ipit Saefidier Dimyati
Assalamu’alaikum.
Saya di kampus Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung sudah 45 tahun. Lebih dari separuh usia hidupku saat ini. Dulu tak terpikirkan menjadi mahasiswa. Hanya modal nekat saja. Teater juga sebetulnya bukan pilihan. Saya sejak SMA lebih suka musik, sesekali membaca sastra dan membuat puisi. Tapi karena sahabat saya di Sekolah Pendidikan Guru Negeri (SPGN) Sukabumi, Maman Sulaeman (alm.), mengajak saya masuk teater, maka saya pun daftar di jurusan teater. Saat itu masih ASTI Bandung.
Awalnya saya berpikir kesenian itu tidak rumit, hanya berhubungan dengan persoalan teknis praktik saja. Ternyata salah. Di teater saya diajak masuk ke dunia yang lebih dalam. Berpikir tentang kehidupan, tentang sesama, tentang takdir, tentang Tuhan, dan tentang diri sendiri.
Keterpukauan saya yang pertama terhadap teater saat saya mengapresiasi pertunjukan “Antigone” persembahan STB dengan sutradara Suyatna Anirun. Saya menyaksikan akting yang memikat dari Eka Gandara WK yang berperan sebagai Creon. Saya juga melihat Yati Sugiati berperan sebagai Antigone dengan bagus. Ada juga Arthur S. Nalan sebagai Haemon, Rachman Sabur sebagai Kepala Paduan Suara, dan lain-lain. Pertunjukan itu sampai saat ini masih selalu terbayang. Saya pikir belum ada pertunjukan bagus dari kelompok-kelompok teater lainnya yang menyajikan Antigone sebagus STB saat itu.
Ada satu ungkapan yang selalu saya ingat dari Antigone yang diungkapkan oleh Paduan Suara, yaitu: “Banyak hal yang menakjubkan di dunia, tapi yang paling menakjubkan adalah manusia.” Saat itu saya masih berumur 20 tahun. Saya belum tahu apa-apa tentang tragedi. Tentang filsafat. Tetapi meskipun begitu, saya merasa bahwa ungkapan itu begitu mengena, merasuk ke dalam pikiran saya. Ada keinginan untuk mengetahuinya lebih dalam dari kalimat itu. Namun, karena akses terhadap buku begitu terbatas saat itu, saya hanya bisa termenung dan kagum terhadap pengarangnya, Sophocles. Sungguh jenius, padahal beliau hidup di abad sebelum Masehi.
Saya pernah bertanya, mengapa tragedi bisa muncul di alam pikiran orang-orang Yunani? Tentu saja secara evolutif kita bisa membaca dari buku-buku sejarah teater Eropa bahwa tragedi berhubungan dengan ritual keagamaan, koor dithyramb, yaitu nyanyian pujaan terhadap Dewa Dionysus, dewa anggur, lalu Thespis yang dianggap sebagai aktor pertama, keluar dari kelompok paduan suara (korus) untuk berdialog sendirian, melahirkan seni peran teater.
Namun, mengapa harus tragedi, sebuah genre yang selalu berakhir dengan kematian atau kemalangan? Bukankah seni itu, seperti dikatakan Brecht, pada dasarnya untuk menghibur? Mengapa tragedi itu, jika dianggap hiburan, harus dengan linangan air mata atau rasa kesedihan yang mendalam di dalam diri penontonnya? Kata Aristoteles, tujuan tragedi adalah katarsis, penyucian jiwa. Para penonton menjadi paham bahwa hidup harus waspada karena kalau tidak waspada, bisa saja kemalangan yang dialami oleh tokoh di atas pentas akan dialami juga oleh kita di kehidupan nyata.
Seiring waktu yang berjalan, selain memahami pernyataan Aristoteles itu, saya pun memiliki pemahaman bahwa seni pada dasarnya adalah wahana ekspresi manusia untuk mengungkapkan penderitaan atau kemalangannya. Jika kita periksa karya-karya seni yang dianggap bermutu, selalu saja ia mengungkapkan tentang kemalangan, mengungkapkan rasa sakit manusia. Bahkan karya-karya komedi, meskipun penuh gelak tawa, tetapi sebetulnya di dalamnya menceritakan kekonyolan-kekonyolan hidup manusia. Arthur Schopenhauer mengatakan, seni selalu bungkam terhadap kebahagiaan. Karya seni selalu bicara tentang rasa sakit, dan saat harus berbicara tentang kebahagiaan, maka ia berhenti, selesai, seperti cerita-cerita dalam opera sabun atau sinetron.
Tragedi adalah karya tertinggi tentang rasa sakit. Ia bukan sebuah pesimisme, tetapi sebagai pengakuan bahwa hidup tidak baik-baik saja, dan sebagai manusia kita harus menjalaninya dengan sukacita. “Tragedi merupakan perpaduan yang sangat solid antara semangat Apollonian dan Dionysian,” begitu kurang lebih kata Nietzsche. Apollonian adalah ketertiban atau keteraturan, dan Dionysian adalah semangat hidup. Tragedi tercipta pada dasarnya ketika kengerian dan kekacauan hidup (Dionysian) berhasil diberi bentuk yang indah dan dapat dicerna oleh struktur rasional (Apollonian).
Pemahaman terhadap tragedi dan rasa sakit kiranya sedikit banyaknya bisa mempertebal toleransi dan solidaritas terhadap sesama. Artinya, ketika memahami hakikat rasa sakit, maka kita tak akan tega membuat sesama menjadi sengsara.
Korupsi adalah jalan menuju sengsara, baik bagi pelakunya maupun orang lain. Orang yang melakukan korupsi besar kemungkinan tidak paham makna tragedi. Mereka takut terhadap rasa sakit. Mereka ingin menghindari kesengsaraan. Jiwanya menjadi banal. Sujud pada Tuhan hanya semata ritual. Secara tidak disadari, dia tenggelam ke dalam sumur hasrat yang tanpa dasar. Oleh karena itu, untuk orang-orang yang memiliki peluang untuk berbuat curang, semestinya mempelajari tragedi agar rasa solidaritas dan toleransi kepada orang lain meningkat di dalam dirinya.
Sekali lagi saya katakan bahwa tragedi tidak membawa manusia pada pesimisme. Justru sebaliknya. Tragedi bisa menumbuhkan secercah harapan ketika manusia berada dalam keterpurukan, yakni bahwa meskipun kita dilanda rasa sakit, kemalangan dalam menjalani kehidupan, namun kehidupan bukanlah arena yang harus dihindari. Hidup ini layak dijalani. Kita semestinya mengatakan “ya” terhadap ketidakrasionalan hidup. Keabsurdan dan kekonyolan hidup. Hidup bukanlah ketidakbermaknaan. Ia merupakan sebuah jalan bagi terciptanya keteraturan.
Seniman, dalam pandangan para pemikir romantisisme, adalah manusia jenius. Dia merupakan sosok yang memelihara fase anak-anak. Kepolosan yang dimilikinya menjadikan ia menjadi makhluk yang bisa menangkap keteraturan di dalam dunia yang kacau balau.
Terakhir, dalam kesempatan kali ini saya mengucapkan terima kasih terhadap guru-guru saya, seperti Saini KM, Jakob Sumardjo, dan Suyatna Anirun, yang telah mengajarkan saya mengenai hidup.
Kepada Benny Yohannas, teman diskusi sewaktu mahasiswa, dan Yoyo C. Durachman, yang telah mengajak saya bekerja di almamater tercinta. Kepada dosen-dosen yang lain, Agus R. Sarjono, Tatang Abdulah, Arthur S. Nalan, Retno Dwimarwati, dan Agus Setiawan, terima kasih atas perbincangan dan kerja sama selama ini.
Kepada Iman Soleh yang sekarang masih sakit, semoga cepat sembuh, kembali bisa beraktivitas, dan terima kasih atas kebaikannya selama ini.
Untuk mantan-mantan mahasiswa saya yang kini sudah jadi dosen, pemikir, dan seniman hebat, seperti Yani Mae, Fathul A. Husein, Irwan Jamal, Cerly Lubis, Wail, Zanuar Eko, dan Rizal Sofyan, terima kasih atas kesediaannya disuguhi omong kosong selama ini.
Kepada dosen-dosen yang lainnya, seperti Tony Broer, Yadi, Wita, Dewi, Mahesa, Wanda, Gusrizal, Rizal Sofyan, Akbar Aria, Monita, dan sebagainya, terima kasih selalu atas kesempatan yang menyenangkan berkelakar dengan Anda semua.
Kepada Panji, Dasep, dan Yanto yang selalu menolong saya dalam hal-hal teknis, terima kasih.
Kepada Endang Harris dan Meylan, teruslah dalam posisinya sekarang. Maju terus untuk tidak selalu hadir menjalankan tugas, dan nikmati gaji yang berasal dari pajak rakyat itu secara sukacita.
Tak lupa juga untuk kawan-kawan yang terlebih dulu meninggalkan kita, Joko Kurnain, Lili Rosidah, Jaeni, dan Herman Effendi. Al-Fatihah…. Aamiin.
Semoga kita semua selalu ada dalam lindungan Tuhan Yang Esa. Aamiin.


