
DetikEdu – Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) tengah menyiapkan mekanisme rencana siswa tidak otomatis naik kelas. Pakar pendidikan Bukik Setiawan mengingatkan bahwa keputusan tinggal kelas tidak cukup hanya didasarkan pada hasil belajar, tetapi harus disertai pertimbangan dan pendampingan yang memadai. Guru perlu mengenali kemampuan dan perkembangan murid, memahami kesulitan yang mereka hadapi, serta memperbaiki bantuan dan pengalaman belajarnya. Sebab, keputusan tinggal kelas tanpa pendampingan yang tepat dapat menimbulkan stigma, menurunkan rasa percaya diri, bahkan meningkatkan kerentanan anak untuk putus sekolah.
Sumber:
Rencana Murid Tak Otomatis Naik Kelas, Apa Plus-Minusnya buat Guru dan Siswa? — detikEdu

I. Pagi yang Dimulai Sebelum Subuh
Sebelum seragam abu-abunya disetrika,
Rara sudah lebih dulu menyeka ayahnya,
menyuapkan bubur sesendok demi sesendok ke mulut yang sejak stroke ringan itu sulit mengunyah dan sering lupa cara berterima kasih.
Ia mencuci piring,
menjemur kain,
menaruh obat di sebelah gelas yang airnya ia tes dulu dengan jari,
lalu berlari ke sekolah kejuruan di ujung gang,
selalu tiba satu menit sebelum gerbang ditutup,
dengan rambut yang masih basah dan kepala yang sudah lelah.
II. Bel yang Selalu Membuat Matanya Panas
Di kelas sepuluh,
di bangku paling ujung, setiap bel masuk berbunyi,
Rara menunduk dan mengelap air mata yang jatuh tanpa ia izinkan.
Gurunya menerangkan rumus di papan,
tapi telinganya masih mendengar napas ayah yang tersengal,
dan angka-angka itu menguap seperti uap bubur yang ia tinggalkan di dapur.
Ia mengerjakan tugas di angkot,
di sela menunggu antrean apotek,
di lantai kamar mandi saat semua orang rumah sudah tidur.
Tapi tulisannya makin miring,
dan nilainya makin pendek.
III. Rapor yang Dibuka di Meja Makan

Di penghujung tahun,
wali kelas menyerahkan rapor dengan satu kalimat yang dicetak tebal: tidak naik kelas.
“Makanya jangan main terus,” katanya pelan,
tanpa bertanya main ke mana, tanpa tahu bahwa satu-satunya tempat yang pernah Rara datangi sepulang sekolah adalah kamar ayahnya.
Rara mengangguk,
karena menjelaskan terasa lebih melelahkan daripada dianggap malas.
IV. Yang Dibisikkan Pagar Tetangga
Kabar itu sampai ke gang lebih cepat dari angkot.
“Katanya Rara tinggal kelas, ya? Kasihan orang tuanya.” Seorang ibu menyapu halaman sambil memelankan suara yang justru sengaja dibuat terdengar.
Rara melewati mereka sambil membawa kantong obat,
tersenyum tipis seperti yang biasa ia lakukan,
dan baru melepaskan senyum itu setelah pintu rumah tertutup di belakangnya.
Malam itu,
ia menatap langit-langit kamar lama sekali,
bertanya pada dirinya sendiri apakah ia memang anak yang gagal,
atau hanya anak yang terlalu banyak dititipi.
V. Berita yang Terlambat Datang
Beberapa pekan kemudian, ponselnya menampilkan berita: sebuah perhimpunan guru meminta kebijakan tinggal kelas dikaji ulang, karena anak-anak belum perlu terus dipaksa bersaing,
mereka perlu belajar bekerja sama.
Rara membacanya sampai habis,
lalu duduk lama di tepi ranjang ayahnya.
Ia tak tahu apakah kebijakan itu akan sampai ke sekolahnya,
ke wali kelasnya,
ke ruang tamu para tetangganya.
Ia hanya tahu,
malam itu,
untuk pertama kalinya setelah sekian lama,
ada orang yang bertanya apa yang sebenarnya terjadi pada seorang anak sebelum menghakiminya karena gagal.
Ayahnya menggenggam tangannya pelan,
dan Rara,
yang biasanya menahan segalanya,
membiarkan air matanya jatuh tanpa perlu dilap lebih dulu.
Tentang Penulis – ADITYA PERDANA SAPUTRA, guru Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan mengabdi di daerah Lampung Barat, Indonesia. Ia menyelesaikan pendidikan S-1 di Universitas Pendidikan Indonesia (2023) dan Pendidikan Profesi Guru Prajabatan dari Universitas Pendidikan Indonesia (2024) di bidang Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan.

PUISI ESAI GEN Z: Puisi Esai Gen z ini puisi esai mini 500 kata khusus untuk Gen Z dan Gen Alpha. Disarankan tema-temanya yang relate seperti bully, mental health, patah hati, broken home, sex bebas, dan narkoba. Tuliskan 500 kata. Sertakan bionarasi maksimal 5 kalimat, 2 foto penulis dan 2 ilustrasi AI yang mendukung puisi esainya. Kirimkan ke gongtravelling@gmail.com dengan subjek: Puisi Esai Gen Z. Ada honorarium Rp300 ribu dari Denny JA Foundation bagi yang puisi esainya tayang. Jangan lupa sertakan nomor rekening bank. Jika ingin membaca Puisi Esai Gen Z yang sudah tayang klik gambar di bawah ini:



