Abdul Salam HS lahir di Serang, 16 Juni 1992. Aku belum pernah menerima relawan Rumah Dunia usia remaja. Pelik. Mereka sedang puber. Keempat anak saya juga sedang bertumbuh. Nabila 11 tahun, Gabriel 10 tahun, Jordy 4 tahun, dan Natasha 3 tahun – mereka sedang butuh perhatian penuh tidak hanya dari ibunya, tapi juga dari aku. Pada tahun itu pula aku memilih mengundurkan diri dari pekerjaanku sebagai senior creative di RCTI.

Setelah berdiskusi dengan penasihat Rumah Dunia; Emak, istriku – Tias Tatanka, dan Toto ST Radik, akhirnya kami menerima Salam sebagai relawan Rumah Duia. Firman Venayaksa sebagai Presiden Rumah Dunia periode 2005 – 2010 juga sangat membutuhkan relawan untuk menggerakkan kegiatan Rumah Dunia. Saat itu Rumah Dunia sedang berada di puncak. Praktik baik literasinya banyak diadopsi oleh komunitas literasi lainnya. Kemdikbud RI menunjuk Rumah Dunia sebagai role model taman bacaan masyarakat yang progresif kreatif, inovatif, dan poduktif. Jadi sangat beralasan jika Firman menbutuhkan banyak relawan.

Relawan yang tinggal di Rumah Dunia ada beberapa orang; mereka kuliah di UIN SMH Banten dan Untirta Serang. Aku juga kemudian menerima 3 orang pelajar selain Salam; Rozy dari Tangerang, Oki dari Ciomas, dan Royadi warga setempat di kampung Ciloang.
Cukup rumit menghadapi 4 relawan Rumah Dunia yang masih SMA. Usia mereka yang sedang bergejolak. Kadang mereka pulang malam dan pagi-pagi masih tidur. Tapi Salam begitu tekun mengikuti kegiatan di Rumah Dunia. Mulai dari Kelas Menulis Rumah Dunia, diskusi literasi, peluncuran dan bedah buku. Salam lebih menyukai menulis puisi. Dia aktif di Majelis Puisi yang diasuh Toto.

Aku menegaskan kegigihannya, “Masa depanmu ditentukan olehmu hari ini, Salam.”
Aku betul-betul menggembleng Salam – sesuai dengan keinginan Rahel yang menitipkannya kepadaku agar Salam juara di masyarakat. Kadang saya suka kasihan ketika melihat Salam yang dianggap junior oleh relawan lainnya yang sudah mahasiswa alias senior. Atau ketika teman-temannya yang sebaya lebih santai darinya. Tapi dengan cara seperti itu, kapasitas Salam mengalami peningkatan yang signifikan.
Semasa SMA, karya-karya Salam berupa puisi, cerpen, esai dimuat di surat kabar lokal seperti Radar Banten, Kabar Banten, Banten Pos, Satelit News, Banten Raya Pos, Indopos, Pikiran Rakyat, dan Media Indonesia.

Salam mulai belajar jadi pemimpin di Rumah Dunia. Dia kulatih jadi Ketua Pelaksana untuk kegiatan regular Rumah Dunia.
Ketika jadi mahasiswa di Fakultas Bahasa dan Sastra Untirta Serang, Salam termasuk mahasiswa yang unggul. Dia sudah menulis. Di Banten jarang sekali mahasiswa yang menulis. Cerita pendeknya termuat di kumpulan cerpen “Mubeng” (Gong Publishing, 2013). Buku tunggalnya yang sudah terbit kumpulan puisi “Tertuju Padamu” (Arsatin, 2016).
Sebagai anak petani yang tugas sehari-harinya ketika masih di SD dan SMP adalah bertani serta memandikan kerbau, Salam adalah contoh praktik baik literasi yang sukses.

Aku dibuat terpana dengan deretan prestasinya. Dia menyabet juara dua pembacaan puisi se-Provinsi Banten. Aktor terbaik dalam acara Festival Seni Untirta (2014). Peraih Anugrah Penulis Terbaik se-Banten di bawah umur 25 Tahun (2015). Masuk lima penulis terbaik muda Se-Indonesia versi Kemendibud RI, (2015) . Pernah mengikuti Undangan Temu Sastrawan di Ternate, Maluku Utara (2011), Temu Penyair Nusantara ke-lV di Jambi (2011), Temu Penyair MPU di Jogja (2012), Temu Penyair Negeri Poci lll di Tegal (2013), Temu Penyair Indonesia di Sragen (2013), Temu Penyair Negeri Poci lV di Tegal (2014), Temu Penyair Negeri Poci V di Tegal (2015), Temu Penyair MPU di NTT (2016 ), Temu Penyair Indonesia di Aceh (2017), diundang dalam kegitan Borobudur Writers & Cultural Festival (2019).


