Aku meminta Salam untuk meneruskan perjuangan sebagai Presiden Rumah Dunia periode kelima, 2020-2025 setelah Ahmad Wayang (2015-2020), Ibnu Adam Avicena (2010-2015), Firman Venayaksa (2005-2010), dan aku (2000-2005). Setahun kemudian, pada 2021, Salam menikah dengan sesama relawan Rumah Dunia, Diofany.

Aku melihat militansi dan kecintaannya pada Rumah Dunia sangat luar biasa. Dia merasa bahwa “from zero to hero” karena Rumah Dunia. Dia bisa keliling Indonesia, karena Rumah Dunia. Beberapa kali dia ke Singapura – hal yang tidak pernah terpikirkan oleh anak petani seperti dirinya, karena Rumah Dunia.
Salam termasuk pembelajar yang gigih. Ketika aku memercayakan kepada dia sebagai Menejer Penerbitan Gong Publishing tahun 2014, hingga hari ini tetap berjalan mulus. Banyak buku yang diterbitkan. Dia berhasil membantu mewujudan orang-orang yang ingin menerbitkan buku.
Saat Covid-19 melanda negeri, Salam meminta kepadaku untuk mengelola café di Rumah Dunia pada 13 September 2021.

“Rendez-vous Café, namanya,” Salam menyodorkan nama café.
Aku menyetujuinya.
“Nanti seperti biasa, dari keuntungan Rendez-vous café, akan ada yang disubsidikan untuk operasional dan kegiatan Rumah Dunia,” kata Salam.

Aku senang mendengarnya. Apalagi ketika Perpunas RI menetapkan aku sebagai Duta Baca Indonesia 2021-2025, aku harus fokus mengampanyekan budaya membaca dan menulis. Ini akan berdampak pada kegiatanku yang akan lebih banyak berada di luar Rumah Dunia.
Setelah Covid-19, Rumah Dunia terus bertahan walaupun kehilangan beberapa relawan. Dengan adanya Rendez-vos Café sangat membantu. Rumah Dunia jadi ramai dikunjungi. Di akhir pekan ada kegiatan literasi, sehingga orang-orang yang datang mengikuti acara secara otomatis jadi konsumen.

Salam mulai memasuki fase literasi finasial setelah literasi baca dan tulis, literasi digital, literasi budaya dan kewargaan berhasil dilewati dengan sukses. Kompetensi Rumah Dunia di jurnalistik, sastra, dan film membawa Salam ke jenjang literasi yang diperhitungkan. Dia contoh baik dari transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial.

Kini Salam beserta relawan Rumah Dunia lainnya; Miftah, Fazri, dan Hamzah mulai serius mengelola aset Rumah Dunia seperti auditorium Surosowan, yang diminati dengan tarif sewa disesuaikan dengan penyewa.

Salam setiap hari bahagia mengelola rendez-vous café Rumah Dunia, menunggui Ozora – buah hatinya yang berusia 1 tahun, menyelenggarakan kegiatan Rumah Dunia bersama relawan lainnya, sambil mengurusi Gong Publishing. (*)


