Ini akan terkait ke alur, plot, dan plot poin. Ribet amat, ya. Sebetulnya tidak. Jika alur saja, itu cenderung memberi tahu. Tentu pembaca akan terbunuh imajinasinya. Tapi jika plot, pembaca akan membayangkan adegan dan peristiwa yang kita tuliskan. Pembaca akan membuat film sendiri. Lalu plot point? Ini adalah peristiwa genting atau peristiwa besar dari tokoh utama yang menggerakkan cerita.
CONTOH ALUR CERITA : •Asmuji lapar. (TELL)
CONTOH PLOT: •Asmuji meraba kaca pembatas waralaba, menelan air liur dan memegangi perutnya ketika melihat anak-anak sebayanya menyantap ayam goreng paman berkumis. (SHOW)
DON’T TELL, BUT SHOW!

CONTOH PLOT POINT:
Asmuji menoleh. Di sisi kiri areal parkir seorang lelaki bertopi meletakkan tas di bawah mobil. Lelaki itu berlari. Asmuji menggedor-gedor kaca pembatas dan menunjuk-nunjuk ke bawah mobil, “Bom! Ada bom! Lari!”
BUM!
Tubuh Asmuji terlempar ibarat seonggok karung ke trotoar. Pechan kaca dan seroihan tembok menimpa tubuhnya. Asap dan api menyelimuti waralaba!
APA YANG DIRASAKAN PEMBACA?



