Udin mengaku memang ada saja buku yang hilang tiap kali ia bawa di mobil angkotnya. Ia juga mengaku rugi karena dua bangku yang masih bisa untuk memuat penumpang, ia gunakan untuk menaruh rak buku, tapi mau bagaimana lagi, sebab ini sudah menjadi hobi. Ia mengaku sudah seperti panggilan jiwa. Udin membawanya dengan senang hati saja.

Hingga kemudian, banyak penumpang yang membaca di mobil Udin Angkot lantas berfoto. Udin menebak mungkin sudah lebih dari 100 foto yang orang-orang unggah di media sosial masing-masing. Hingga akhirnya Udin banyak menuai pujian dari banyak orang.
Setiap harinya Udin Angkot biasa mencari penumpang dari Pandeglang sampai Kota Serang. Bada solat subuh ia sudah bersiap-siap memanaskan “Angkot Literasi-nya” untuk bertempur mencari rezeki, juga sekaligus menyediakan akses baca bagi orang-orang yang naik angkotnya.

Udin memang lelaki pekerja keras. Ia juga punya pesan untuk anak-anaknya, bahwa jika ingin menjadi orang sukses, yang pertama adalah harus menumbuhkan minat baca pada diri sendiri dan jangan malas.
Lalu, kapan waktu membaca bagi Udin Angkot? Ia mengaku hal itu tidak terbatas dengan waktu. Kapan pun bisa ia lalukan, seperti saat menunggu penumpang, atau saat di rumah kala istirahat. Tapi untuk waktu menulis, ia lakukan sore atau malam sehabis pulang narik angkot.

Ide untuk menulis cerita pendek atau puisi, biasanya Udin dapatkan usai membaca berita yang sedang ramai di suatu koran. Dari sana Udin kemudian menjadikannya sumber inspirasi untuk tulisan-tulisannya. Baginya yang penting adalah menuliskannya terlebih dulu.
Udin biasa langsung menulis dengan tangan di buku tulis yang selalu ia bawa. Jika sudah terkumpul, ia baru mengetik ulang. Awal-awal ia meminjam jasa ketik rental, tapi sekarang ia meminta bantuan anaknya untuk mengetik ulang.

Udin sadar, untuk merubah pola pikir masyarakat tidaklah mudah. Pertamakali mendirikan Perpustakaan di rumahnya, Udin mengaku, bahwa kebanyakan masyarakat di kampungnya masih kurang soal urusan membaca. Tapi pelan-pelan Udin terus mensosialisasikan perpusnya itu. Ia mempunyai niatan, suatu saat nanti ingin merubah masyarakat di kampungnya agar semakin gemar membaca. *



