Ia sempat masuk SMK, tapi itu dilewatinya hanya sebentar. Sempat terpikir untuk meneruskan sekolah, tapi Udin lebih memilih mencari uang terlebih dahulu dengan menjadi kondektur. Tapi untuk urusan baca, Udin tak pernah lupa.

Awalnya ia mengaku paling suka membaca Koran Pos Kota, terutama cerita-cerita kriminal. Hingga lambat laun, kegemarannya membaca terus meningkat, dari baca koran, kemudian baca buku dan sesekali iseng-iseng menulis. Udin paling suka buku-buku tentang motivasi.
Hingga suatu waktu, Udin termotivasi usai membaca salah satu buku karangan Duta Baca Indonesia Gol A Gong, yang juga merupakan sastrawan Banten dan pendiri Rumah Dunia di Ciloang, Serang-Banten.
Dia juga jadi ingin mengenal sosok Gol A Gong lebih dekat. Dengan segala daya, Udin mencoba bangkit kembali untuk berlatih menulis, itu terjadi saat usinya 40 tahun. Dulu, Udin senang membuat pantun, bahkan salah satu pantunya sempat ditunjukkan kepada Gubernur Banten pertama. Lantas, tulisan itu ia sodorkan kepada Gol A Gong untuk dikoreksi. Ternyata kegiatan menulis dan membaca asyik juga, lalu Udin mulai berfikir untuk serius menulis lagi.

Manfaat membaca dan menulis bagi Udin sangat dasyat! Mendapat apresiasi, dikenal sejumlah orang dan bisa membantu mencerdaskan anak-anak warga sekitar dengan kegiatan literasi, merupakan karunia yang bersar.
Hasilnya, benar-benar Udin nikmati dengan penuh syukur.
Udin juga membaca buku-buku orang sukses, atau buku Soekarno, Bung Hatta dan lain-lain.
Bagi Udin, membaca dan menulis jika ditekuni dengan serius, dampaknya akan luar biasa.
Dari banyak bersinggungan dengan buku dan pegiat literasi, Udin Angkot jadi terinspirasi membuat perpustakaan di dalam angkotnya. Yang kemudian ia namai “Angkot Lierasi”. Itu ia mulai sejak Oktober 2016 lalu. Sebulan kemudian ia juga membuka perpustakaan di rumah pribadinya di Pandeglang. Koleksi buku yang ia miliki awalnya berasal dari sumbangan Gol A Gong dan beberapa kawan dan dari donatur. Hingga sekarang koleksinya sudah mencapai ratusan buku.

Awalnya sang istri kaget, angkot suaminya diisi dengan buku-buku. Tapi kemudian sang istri menjadi orang pertama yang mendukung niat baik Udin.


