Jika kita tidak berani mengungkapkan kebenaran lewat jurnalistik, menulis fiksi adalah cara lain. Kita akan leluasa mengungkapkan kebenaran itu karena fiksi adalah cerita rekaan.
Nulis Yuk Bareng Gol A Gong #6

Dunia Kata, Dunia Imajinasi

Jika kita tidak berani mengungkapkan kebenaran lewat jurnalistik, menulis fiksi adalah cara lain. Kita akan leluasa mengungkapkan kebenaran itu karena fiksi adalah cerita rekaan.

Banyak pesan masuk ke kotak pesan saya, menanyakan bagaimana caranya mengundang Gol A Gong. Silakan kontas saya – istri Gol A Gong – di 0819 0631 1007.

Flash Fiction? Cerita Mini? Fiksi Mini? Ah, bebas saja. Tapi, saya mencoba memberikan kriterianya ala saya. Tapi tetap mengacu ke kaidah unsur intrinsik. Silakan bergabung, ya. Pelatihan fiksi mini pada 29 September 2024, pukul 19.30 WIB.

Saya betul-betul terpesona melihat kerangka rumah adat itu yang terbuat dari kayu besi. Ya, ya. Sangat tinggi cita rasa seninya. Rumah adat ini membuat saya takjub karena memiliki ciri khas menara yang menjulang tinggi, mencapai 15–30 meter.

Selamat berjuang. Kepada para sahabat literasi yang sekarang menerima penghargaan serupa, ayo, jangan berpuas diri. Semangat. Buat program yang rekreatif, inovatif, dan tentu adukatif.

Kapan Menara Air ini berdiri Kata Tudi, “Antara tahun 1917-1920.” Yudi bercerita lagi, “Saya membyangkan dulu, sebelum sepadat ini, menara air ini pasti terhubung ke Balai Yasa, stasiun kereta api Manggarai.” Sekarang memang seolah terhimpit. Selain rumah penduduk, juga bangunan SMPN 33.

Makan pagi dengan bermandikan cahaya Ilahi Rabbi yang hangat sampai mulai terasa panas. Kami bertahan duduk makan sambil membincangkan anak-anak yang sudah menyebar di kota lain. Percakapan dalam grup WhatsApp keluarga, kuliah dan pekerjaan anak-anak adalah bahan seru.

Hati-hatimu dengan hatimu. Begitulah kira-kira Akhmad Sekhu menuliskan perasaan hatinya lewat Puisi Minggu edisi 38/I/22 September 2024. Mari, buka hatimu untuk puisi. Jangan lupa seduh kopi terbaikmu.

Terima kasih, Kang Mukti. Semoga di sana yang dipenuhi bidadari dan sungai air susu, bisa menikmati kopi dan menyanyikan lagu ini lagi. Alfatehah…

Sudah menginjak bilangan satu minggu, laptop Rudi diiklankan di media sosial. Berkali-kali calon pembeli datang melihat-lihat laptop sekaligus bertanya harga lalu menawar dan dengan pengecualian: ada yang juga tidak menawar sama sekali.

Sekarang mari menulis fiksi; cerpen, novel, dan puisi. Idenya dari mana? Jika setiap hari cara berpikirmu kritis dengan menggunakan 5W plus 1H, maka kamu akan mudah menemukan ide dari peristiwa-peristiwa itu. Coba saja.

Gol A Gong sebagai Duta Baca Indonesia adalah pelayan. Yang selfie sendirian, wefie, minta tanda tangan, semua saya layani. Dengan cara seperti ini, saya anggap sebagai kampanye baca-tulis juga.

Di era digital ini, sebetulnya peluang mempublikasikan karya kita berupa tulisan maupun video sangatlah mudah. Kamu bisa tayangkan karyamu di akun medsosmu; IG, TikTok, YouTube, website, atau FB. Ayo, berkaryalah!

Banyak peristiwa terjadi di sekeliling kita. Setelah menuliskannya jadi berita di medsos kita, mulailah kita fokus pada 1 hal. Misalnya jika ada kebakaran pasar di kota kita, mulailah kita menuliskan tentang asal-usul pasarnya. Pasti menyimpan banyak kenangan. Kita boleh menuliskannya dengan gaya sastra.

Setiap ada kesempatan, saya utamakan membuat kegiatan kampanye membaca dan menulis. Sekarang giliran kepada anak-anak PAUD, TK, dan anak-anak SD dari kelas 4 ke bawah. Celemek Ajaib Paman Gong beraksi.

Semoga, di masa mendatang, kiprah Duta Baca Indonesia dan Daerah semakin masif meliteratkan masyarakat di tengah disrupsi digital yangbadainya seringkali menjadi problem tersendiri yang membutuhkan upaya solutif sehingga buku tetap menjadi titik tolak sebelum menggerakkan berbagai aktivitas literasi lainnya. Sebagai ikon gerakan literasi, tentu saja, Duta Baca selalu punya cara solutif.

Kalian tahu, ada berapa mercusuar di Indonesia? Indonesia tercatat memiliki 264 bangunan mercusuar di penjuru daerahnya. Sebagian besar merupakan peninggalan Belanda saat zaman penjajahan, yang tentu saja fungsinya untuk keluar masuk kapal perdagangan. Aku belum banyak berfoto di mercusuar.