Setiap kegiatan Duta Baca Indonesia di daerah, saya selalu kerepotan di soal dress code. Tentu topi dan jas jadi andalan.
Saya Memakai Baju Adat Larantuka

Dunia Kata, Dunia Imajinasi

Setiap kegiatan Duta Baca Indonesia di daerah, saya selalu kerepotan di soal dress code. Tentu topi dan jas jadi andalan.

Kota Larantuka itu selain indah juga menyimpan banyak cerita masa lalu. Selain bangunan tuanya seperti gereja Katerdal, rumah Raja Larantuka, patung YHesus, pantai Utse, juga taman patung Herman Fernandez yang heroik.

Gol A Gong sebagai Duta Baca Indonesia betul-betul mendorong dan memberi contoh tentang pentingnya membaca dan menulis. Termasuk mempraktikkannya di alam terbuka sebagai bagian dari kurikulum merdeka.

Flores Timur dan Kota Kupang dalam Safari Literasi saya sebagai Duta Baca Indonesia 2021-2025 tidak akan pernah saya lupaklan. NTT ada di dalam hati saya secara istimewa. Semoga bermanfaat untuk masa depan Literasi NTT!

Kalau lapar, makan apa? Bukan asal perut kenyang saja. Tentu harus membangkitkan selera. Kuliner Chicken Roll Teriyaki The Manor Andara bisa jadi andalan.

Kami tiba di Sungai Jantan ketika orang-orang mulai menyalakan obor. Sungai terang-benderang. Semuanya mengenakan pakaian serba putih; memakai peci dan ada pula yang mengenakan sorban. Barangkali, semua laki-laki Siak ada di sini, mengikuti ritual ini. Barangkali, hanya ayahku yang bertopi lebar itu yang tak tampak diri. Tadi pagi, ia masih berangkat ke Perawang untuk berburu babi.

Ibu Kota Indonesia mulai 17 Agustus 2024 tidak lagi di Jakarta tapi pindah ke Nusantara di Kalimantan Timur. Pro dan kontra, memang. Tapi sebagai rakyat, kita harus mengikuti keputusan legislatif, eksekutif, yudikatif yang sudah kita beri kepercayaan di setiap Pilpres dan Pileg. Kita lihat 10 tahun ke depan, ya.

Safari Literasi Duta Baca Indonesia kali ini di Flores Timur bersama tim dari Perpusnas. Setelah Gelar Wicara di Larantuka pada Kamis 1 Agustus 2024, Gol A Gong bersama PGRI Agupena, dan Forum TBM blusukan ke SD, SMP, taman bacaan, dan komunitas literasi.

Pertemuan saya dan Abidzar Alghifari yang memerankan tokoh “Roy” dari novel Balada Si Roy di hotel ASA Larantuka, bukan kebetulan. Ada tangan Tuhan yang menggerakkan. Kita tunggu saja kelanjutannya.

Masih suka baca koran? Setiap berkunjung ke sebuah kota di luar Jawa, saya selalu menemukan koran di jual di pinggir atau perempatan jalan. Atau di lobi-lobi sekolah dan kampus. Ini membahagiakan.

Bantuan rak buku dari Perpustakaan Nasional RI yang sangat dinanti akhirnya tiba di 5 tempat, mulai dari TBM hingga perpustakaan desa.

Buku Gempa Literasi saya dan Agus M Irkham tulis pada 2014. Tapi selalu saja ada yang datang meminta tanda tangan saya di buku itu. Ini buku panduan atau kitab skti bagi pengelola taman bacaaan masyarakat.

Setelah penumpang di depan rampung dengan proses terakhir scanning dan autogate kedua terbuka. Lalu, dia beranjak mengambil langkah mendekat ke autogate pertama untuk melakukan proses scanning paspor. Namun, autogate tidak kunjung terangkat. Percobaan kedua berujung nihil. Keangkuhannya mulai runtuh.

Penulis dengan bijak memulai pembahasan dengan analogi yang menggambarkan betapa berbahayanya menjadi terlalu mencolok atau “bersinar melebihi matahari”.

Ya, gara-gara membaca hidupku seolah fiksi. Hidup di antara fakta dan fiksi. Kadang jika bicara cita-cita, yang terlontar dari mulutku adalah hal yang diluar logika. Misalnya: keliling dunia. Pada era 80-an, tentu tidak lazim. Dan aku bukan orang kaya. Jadi, mana bisa?

Zahira Kania Ardian adalah sisiwi kelas 1 SDN Purwakarta, Cilegon. Dia sudah berani menulis puisi. Ayo, anak-anakku, ditunggu puisi-puisinya.

Menurut Nur Fadhilah Fitri Yani, pemerintah perlu menggalakkan program satu desa satu perpustakaan atau satu taman baca. Karena dengan kemudahan akses dan fasilitas yang tersedia, memungkinkan tingginya antusias masyarakat terhadap literasi. Melalui kolaborasi bersama Forum TBM, dan juga berkolaborasi dengan pihak lain, memungkinkan untuk mempercepat dan meratakan akses literasi ke seluruh penjuru Indonesia.