Namanya Pak Bejo (nama samaran), dia adalah seorang penjual makanan ringan dan minuman kemasan. Dagangannya tertata rapi di dalam sebuah gerobak. Sudah 20 tahun dia berdagang di alun-alun Kota Serang. Bahkan, sebelum alun-alun itu dibangun, dia sudah menjadi pedagang di situ.
Dulu, dia masih bisa berdagang di dalam wilayah alun-alun. Namun, sekarang sudah tidak diizinkan lagi. Dia hanya bisa berdagang di bagian luar, tepatnya di terotoar alun-alun.
Sudah 20 tahun Pak Bejo begitu setia dengan pekerjaannya. Dia lebih sering berkeliling untuk menjajakkan dagangannya. Berdagang makanan ringan dan minuman kemasan adalah satu-satunya pekerjaan yang bisa dia lakukan. Sebab, mencari lapangan pekerjaan di Kota Serang sangatlah sulit.
Saat kami berkunjung ke alun-alun Kota Serang, suasana tampak sepi. Ternyata memang di sana cenderung sepi pengunjung. Kata Pak Bejo, di sana ramai hanya ketika malam minggu. Dengan demikian, penghasilannya pun tidak menentu.
Sudah 2 dekade nasibnya tidak berrubah. Dia tidak memiliki harrapan apa pun tentang berkembangan alun-alun Kota Serang. Sebagai warga menengah ke bawah, rasanya percuma dia menggantungkan harapannya di tangan pemerintah. Suaranya pasti tidak digubris dan tidak dianggap. Berharap kepada petinggi hanyalah kesia-siaan.
Kesejahteraan masyarakat Kota Serang masih belum merata sehingga membuat Pak Bejo tidak memiliki harapan berlebih untuk nasibnya. Yang terpenting, dia bisa mencari nafkah untuk keluarganya. Dia lebih baik berusaha sendiri tanpa menggantungkan nasibnya kepada orang lain.



