Sosoknya yang humble juga kalem, mampu memikat perhatian banyak orang. Di samping keilmuannya yang luar biasa, ia mempunyai kisah yang menjadikannya bisa seperti sekarang ini.

Dalam sesi talkshow, kang BQ menceritakan kisahnya yang terlahir di sebuah kampung terpencil di wilayah Serang. Saking rumahnya di pelosok, untuk melihat sebuah mobil saja ia harus menunggu lebaran tiba. “Karena saat lebaran itulah orang-orang kota banyak yang mudik ke kampung,” kisah Kang BQ.
Selain itu, perjuangan belajarnya waktu kecil, sampai-sampai harus mencuri buku yang berada di perpustakaan. Dan itu ia lakukan berulang kali ketika stok buku sudah ia baca semuanya.

Dari perjumpaan dengan buku itulah yang mengubah nasibnya sekarang ini. Menurutnya, bukulah yang membuat ia bisa melihat dunia luar, dunia yang tidak ia dapatkan di kampungnya.
Dalam kisah berikutnya tentang Banten. Menurutnya, Banten ini dimulai dari sebuah buku. “Seorang Sultan Hasanuddin pun dalam kesehariannya selalu mengajar,” katanya. Kerajaan dan gelarnya sebagai raja hanya pangkat saja, selebihnya adalah kegiatan mengamalkan ilmu, membaca dan menulis buku serta mengajar.

Banyak tokoh- tokoh Banten yang luar biasa kecintaannya terhadap ilmu dan buku, seperti Syekh Nawawi, Husein Jaya Diningrat, dan tokoh lainnya. Semuanya tidak terlepas dari buku dan ilmu pengetahuan.
Semangat belajar menjadi jalan keluar untuk memperbaiki masa depan, membaca merupakan cara terbaik untuk mempertahankan budaya dan sejarah. Kesadaran literasi yang kuat, akan memperjelas jalan kita menuju cita-cita yang diinginkan. (Hamzah Sutisna)



