Dalam pemaparannya, Fatih mengatakan ingin ikut andil dalam “Gempa Literasi” yang sudah dilakukan Rumah Dunia. Gerakan untuk perubahan di Banten lewat buku dan budaya literasi.

Acara bedah buku dihadiri lebih dari 50 peserta dari berbagai kalangan, seperti mahasiswa IAIN dan Untirta, mahasiswa Universitas Indonesia (UI), TBM Jogya dari instansi pemerintah Dinidk Kota Serang, Perpus Daerah, serta warga sekitar Kampung Ciloang.

Acara bedah buku menghadirkan Firman Venayaksa, Dosen Bahasa dan Sastra Indonesia di Untirta, selaku pembedah. Sementara Abdul Salam, relawan Rumah Dunia selaku moderator. Selama diskusi berlangsung, para peserta terlihat sangat antusias, terbukti pada sesi tanya jawab, banyak peserta yang mengajukan pertanyaan.

Santi, salah satu peserta mengaku merasa tersedot dengan kata jawara hingga hadir di Rumah Dunia. “Apakah ketika riset dalam membuat novel Jawara pernah menemukan keganjilan?” Tanya Santi. Pertanyaan Santi langsung dijawab sang pengarang novel Jawara. Faith Jam tidak mengaku menemukan kejanggalan selama melakukan riset di lapangan. “Malah saya merasa kagum, ketika riset lapangan ke Gunung Karang di Kabupaten Pandeglang, ternyata di sana memang ada 7 sumur. Konon sumur itu dulunya adalah tempat Sunan Hasanudin bertapa.” tutur Fatih.

Para audien masih banyak yang antusias ingin bertanya, namun waktu yang terbatas, diskusi mesti diakhiri. Diakhir acara, para peserta yang aktif bertanya mendapatkan door prize buku dan T-Shirt dari penerbit Tiga Serangkai.
*) Jack Alawi, relawan Rumah Dunia.


