Berbuka dengan Puisi

Begitu juga ketika aku sebagai Presiden Taman Bacaan Masyarakat (TBM) se-Indonesia, melakukan blusukan ke TBM. Dari 6000 TBM yang tersebar di 33 provinsi, kurang dari 5% yang meletakkan buku puisi di rak-rak bukunya. Sungguh ironi. Lebih ironi lagi, ketika buku-buku puisi yang sedikit jumlahnya itu dicetak, tak ada orang Indonesia yang senang membelinya, kecuali para penyairnya.

Orang Indonesia sangat menyepelekan puisi. Orang Indonesia menganggap puisi tidak akan menjadikan negeri ini kuat. Apalagi masuk sorga. Orang Indonesia menganggap jika ingin masuk sorga harus berada di masjid dan membaca Al-Qur’an. Padahal Al-Qur’an itu Allah SWT tuturkan dengan cara berpuisi. Allah SWT sudah mengenalkan puisi sejak di surat pertama (Al Alaq), yang diturunkan kepada seorang pemuda bernama Muhammad di goa Gira. Iqro, bacalah…

Aku adalah termasuk dari sedikit orang yang meyakini, bahwa puisi bisa membuat orang Indonesia kuat. Banyak orang hebat di dunia ini, yang mengingatkan kita bahwa “puisi” itu kekuatan. John F Kennedy, presiden Amerika serikat di masa lampau pernah bertutur, “Jika politik kotor, puisilah yang membersihkannya.” Bahkan Umar bin Khattab menyerukan, “ajarkanlah sastra pada anak-anak kalian. Sebab sastra akan mengubah yang keras jadi lembut, yang pengecut menjadi pemberani”. Tokoh berpengaruh Islam itu sudah mewanti-wanti, bahwa puisi itu tidak sekadar kata-kata penuh busa, tapi di dalamnya memiliki motivasi kuat untuk berubah. Orang Indonesia tak perlu motivator untuk mengubah negerinya menjadi lebih baik, tapi itu ada pada puisi.

Setitik harapan muncul ketika aku melakukan perjalanan ke Makassar. Pada Jum’at 26 Juli 2012, aku disuguhi “Buka Puisi” di Fort Rottredam oleh Aan Mansur, penyair. Begitu juga di Rumah Dunia, Serang Banten, menyambut waktu berbuka puasa dengan “Perayaan Hari Puisi Indonesia” berupa launching 60 puisi di antologi puisi “Reruntuhan Baluwarti” (Gong Publishing, Juli 2013).

Di kota-kota lain pun begitu, berbuka puasa selain dengan minuman buah, juga puisi. Semoga di ramadhan mendatang, selain Al-Qur’an yang sangat puitis, juga menu “buka puisi” menjadi pelengkap. Dengan begitu, orang Indonesia akan lembut dan berani. Jika tidak, berarti kita sudah mengkhianati apa yang Allah SWT perintahkan di Al Quran surat An Nisa’ ayat 9, bahwa kita tidak boleh mewariskan generasi yang lemah. (*)

*) Dimuat di kolom Koran Tempo, 2 Agustus 2013

*) Foto Jawa Pos

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==