Tapi, saya selalu memenangkan bapak dengan berucap tetap sabar. Ya walaupun saya tahu betul, bapak sedang mengalami sakit kepala yang luar biasa bahkan hampir merenggut pengelihatannya—beruntung bapak masih bisa melihat walaupun hanya 50 persen.

Sambil menunggu giliran panggilan, saya membaca buku yang telah disediakan oleh pihak RS Mata Achmad Wardi. Kemudian beberapa kali membuka handphone dengan membaca berita baik dari Tempo maupun Kompas—yang semuanya hasil langganan. Murah, hanya 50 ribu/bulan.

Bosan dengan membaca, pasien di sebelah saya sedang mengobrol dengan bapak-bapak yang juga sedang menunggu giliran panggilan untuk diperiksa. Bapak ini sudah sering bulak-balik RS Mata Achmad Wardi—untuk itulah ia tetap santai karena bakal sore pelayanannya.
Nama bapak ini adalah Yunus, dia mengaku rumahnya dekat Pasar Rawu yang ada di Serang. Kemudian, dia juga menjelaskan sudah jalan dua tahun konsisten periksa mata di RS Achmad Wardi.

Bapak Yunus bercerita kepada saya bahwa dirinya kala itu tidak bisa melihat—samar-samar—karena katarak. Pada akhirnya, dia harus menjalani operasi kedua bola matanya. Sekarang, dia mengaku sudah bisa melihat jelas.
“Dulu bapak tidak bisa membedakan yang mana orang cantik dan jelek, sekarang mah bisa. Alhamdulillah,” katanya.

“Sekarang mah bisa melihat istrinya pakai lipstik dan bedak. Kalau dulu mah, mau pakai atau nggak, ya tetep aja nggak kelihatan,” sambungnya.
Saya tertawa dengan lelucon bapak satu ini. Dia menguji ketangkasan matanya dengan membaca poster jarak jauh. Keren, itu semua bisa terbaca walaupun jaraknya jauh sekali. Sebaliknya, saya yang masih muda tidak bisa membaca. Maklumlah, minus.
“Itu di poster saya bisa membaca dengan jelas. Jenis-jenis katarak,” sambil menunjuk poster. Saya hanya mengagumi pengelihatannya setelah dioperasi.

Bapak Yunus juga, sekarang berangkat ke RS Mata Achmad Wardi selalu sendirian. Dulu, selalu diantar oleh istrinya atau anaknya. Pada intinya, dia mengaku menuruti perintah dokter agar rutin cek beberapa bulan sekali. Mantap.
Karena bapak saya ketakutan dengan biaya yang besar saat berobat, saya bertanya ke bapak Yunus—berapa biaya yang dihabiskan untuk mengobati kedua bola matanya yang awalnya tidak bisa melihat sekarang sangat jelas pengelihatannya.
“Gratis! Saya ditanggung BPJS Kesehatan dari pemerintah. Kalau pakai uang sendiri sudah pasti puluhan juta,” tegas bapak Yunus.

Saya memberitahu bapak, kalau semuanya bisa selesai dengan BPJS Kesehatan asalnya pikiran tetap tenang. Wajar bapak sedikit pusing, sebab ada yang bilang bah a bayar daftarnya saja Rp.300 ribu. Dan jika dicek bisa mencapai 1,8 juta.
Beruntung, sampai selesainya pemeriksaan mata bapak dan diberikannya obat oleh pihak RS Mata Achmad Wardi Serang—bapak tidak mengeluarkan uang sepeserpun terkecuali ongkos pulang menggunakan Maxim.*



